|
TEMPO edisi
Minggu 8 Juni 2003. |
![]() |
|
Zaini Abdullah: Diplomasi dari Kamar Operasi MENTERI Luar Negeri Gerakan Aceh Merdeka GAM Zaini Abdullah pernah berucap, jika situasi memang memungkinkan, ia dan kawan-kawan akan langsung kembali ke Aceh dengan pesawat pertama hari itu juga. "Jika Aceh merdeka besok, malam ini kami akan berangkat," ucapnya bersemangat. Meski harapan itu dipandang jauh dari realitas, namun Zaini yang sehari-hari berpraktek sebagai dokter tetap ini, mempunyai keyakinan untuk kembali ke tanah rencong. Di tengah kesibukannya di ruang operasi pun, ia tetap meluangkan waktu untuk gerakan ini. Ia berusaha agar tidak ada batas antara GAM dan kehidupan pribadinya. Dalam kesempatannya wawancara dengan Wuragil dari Tempo News Room, ia berbicara dalam bahasa Indonesia yang terkadang sulit untuk dicari padanannya. Zaini bersedia panjang lebar berbicara soal profil, perjuangannya bersama Tiro, dan terutama jika mengomentari soal Indonesia. Namun, dokter spesialis di Swedia itu sangat berhati-hati jika menyentuh soal keluarganya. "Nanti kalau sudah tercipta waktu yang lebih baik dan lebih memungkinkan, saya bersedia menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Sekarang ini belum waktunya.....," katanya. Tidak heran kalau Zaini hanya menyebut bahwa dirinya terlahir sebagai seorang putra dari ayah yang pensiunan guru, yang mengisi sisa hidupnya menjadi ulama. Isteri? Zaini hanya meminta agar dituliskan sebagai ibu rumah tangga dengan tiga putri yang di antaranya sudah bekerja. Berikut petikan perbincangan yang dilakukan melalui sambungan telepon internasional. Bagaimana Anda mendapat laporan tentang situasi di Aceh? Kami mendapatkan laporan dari berbagai macam media yang ada. Sekarang ini kan dunia terasa sempit. Termasuk via SMS? Ya, dengan segala cara. Bagaimana Anda melihat pemberitaan pers? Saya dengar pemberitaan sangat dibatasi oleh TNI ... ha ... ha (tertawa) Bagaimana Anda menanggapi keputusan pemerintah Indonesia mengirimkan utusan khusus ke Swedia? Saya belum tahu apa-apa. Kami tidak dapat melarang mereka datang. Jadi, saya kira itu urusan mereka sendiri yang mencoba-coba untuk memberikan keterangan yang lebih jelas lagi kepada pemerintah Swedia. Tapi, seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya bahwa Swedia memiliki UU sendiri. Dan UU itu tidak dapat diatur oleh siapa pun. Apalagi UU menurut Konvensi Jenewa yang seperti Anna Lindh, Menteri Luar Negeri Swedia sebutkan, bahwa bangsa atau pemerintah Swedia tidak bisa mengubah UU yang telah mereka buat. Tidak seperti UU yang ada di Indonesia, hari ini dibuat begitu, esok hari sudah diubah untuk kepentingan seseorang. Tidak demikian di Swedia. Apakah Anda khawatir dengan bukti-bukti terbaru yang dibawa delegasi itu dalam rangka meyakinkan pemerintah Swedia? Kenapa harus khawatir. Mereka tidak ada bukti. Tujuan GAM bukan untuk mengadakan teror tapi untuk memperjuangkan supaya Aceh kembali merdeka. (Pemerintah Indonesia baru saja mengirimkan utusan yang dipimpin mantan Menlu Ali Alatas ke Stockholm. Menurut Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono, utusan tersebut telah membawa bukti baru yang menunjukkan hubungan Hasan Tiro dengan GAM. Yudhoyono mengatakan, GAM telah melakukan kegiatan makar, separatisme bersenjata dan kejahatan terhadap negara – red.) Tapi Polri telah mengirimkan red notice yang menyatakan pimpinan GAM terlibat terorisme di Indonesia? Itu fitnah yang tidak beralasan. Tidak ada bukti. Apakah pihak Anda juga membangun taktik untuk mengimbangi langkah pemerintah Indonesia? Tidak ada yang perlu diimbangi. Kita lihat saja perkembangannya ke arah mana. Persoalan kami sekarang adalah menjaga hubungan dengan pemerintah Swedia. Kami tetap menjalankan tugas seperti yang telah diamanatkan pemerintah Swedia. Waktu itu pemerintah Swedia menyatakan 100 persen menyetujui dan menyokong berjalannya proses penyelesaian di Aceh secara damai. Itu yang mereka anut. Selain itu, setiap kali kami pergi, kami tetap melapor ke pemerintah Swedia. Menyusul langkah Indonesia yang terakhir itu, adakah GAM melakukan pembicaraan khusus dengan pemerintah Stockholm? Belum, belum lagi. Kami akan bertemu dengan mereka untuk memberi laporan apa yang telah terjadi di Tokyo. Kapan itu? Dalam waktu dekat. Apakah Anda merasa terlindungi oleh kebijakan pemerintah Swedia selama ini? Tentu saja. Bahkan, khusus dalam hal permintaan yang diajukan berkali-kali oleh pemerintah Indonesia (Swedia berkali-kali menolak untuk mengambil langkah hukum terhadap pimpinan GAM yang menjadi warga negaranya, red.), kami harus mengucapkan terima kasih kepada pemerintah Swedia. Kami di sini sebagai warga negara biasa yang sama hak dan kewajibannya dengan warga negara Swedia lainnya. Kami tidak meminta apa-apa dari pemerintah Swedia. Bisa Anda ceritakan proses awal 'hijrah' ke Swedia? Ketika keluar dari Aceh, sekitar 1981, kami langsung ke Singapura karena di sana ada perwakilan UNHCR. Kenapa kami memilih Swedia, ya karena yang kami tahu saat itu ada sumbangan pendirian sekolah di Aceh dari pemerintah Swedia. Lalu UNHCR bilang tunggu dan kami menunggu hingga akhirnya mereka bilang yes. Kami diperkenankan menuju Swedia. Sejak itu kami berada di sini (di Swedia). Sebenarnya kami tidak tahu apa-apa tentang Swedia. Prosesnya berjalan begitu saja. Waktu mereka mengajukan permohonan tersebut, ternyata yang menerima kami adalah negara Swedia. Jadi, sejak semula memang tidak ada pertimbangan politik ketika memilih Swedia? Tidak ada. Kami tidak memperhatikan bagaimana kebijakan luar negeri Swedia. Kami hanya bergerak dengan arahan UNHCR. Bagaimana GAM menjalankan roda organisasi, seberapa sering pertemuan dilakukan? Kami melakukan pertemuan setiap waktu. Apabila kami menginginkan, maka kami akan mengadakan pertemuan. Bisa setiap saat. Berapa sih sesungguhnya anggota GAM di Eropa? Di Swedia kami ada 15 orang. Selain di Swedia ada juga yang berada di Denmark, Norwegia. Tapi, basisnya di Swedia. Dan, tidak semuanya anggota GAM. Ada yang saat ini keluar dari keanggotaan karena tidak puas dan lain sebagainya. Jadi, tidak semua yang di Norwegia dan yang di negara lain menjadi anggota kami. Bagaimana kabar Presiden GAM, Tengku Hasan Tiro? Beliau baik-baik saja saat ini. Meskipun sudah kena stroke, beliau masih sehat. Saat ini pun beliau sedang diwawancara oleh salah satu media besar di Swedia. (Waktu wawancara dilakukan sore hari waktu Swedia) Kelihatannya Tiro sudah tidak pernah tampil secara terbuka lagi? Ya, itu karena alasan kesehatan. Bukannya untuk menutupi kondisi sebenarnya agar perjuangan di Aceh tidak melemah? Tidak, itu tidak benar sama sekali. Sebagai pemimpin, Hasan Tiro tidak perlu mengetahui segalanya. Karena ada Perdana Menteri Malik Mahmud yang dapat mewakili beliau. Namun, kadang-kadang beliau juga tampil. Beliau masih sehat dan masih menjadi pemimpin kami. Bagaimana Anda melihat kegagalan kesepakatan penghentian permusuhan (CoHA)? Itu karena Indonesia tidak memegang kesepakatan awal. Sesuai dengan kesepakatan 9 Desember lalu bahwa kita akan berbicara soal masalah-masalah politik, masalah inclusive dialogue, apabila telah tercapai kondisi keamanan seperti yang diinginkan. Tapi, Indonesia malah mengubahnya secara sepihak. Mereka langsung meminta agar GAM mengakui otonomi NAD, meminta agar melupakan keinginan merdeka. Itu tidak sesuai dengan kesepakatan 9 Desember. Tapi, itu urusan mereka sendiri. Bila ada kesempatan untuk maju ke meja perundingan lagi, apakah GAM bersedia? Terserah pada internasional saja. Kalau mereka menghendaki, ya kami akan maju. Sepertinya Anda sangat menggantungkan harapan kepada internasional? Ya tentu saja. Kami tidak mau berhadapan langsung dengan Indonesia. Mereka selalu memutar balikkan fakta, tidak ada guna untuk bertemu mereka. Kami mau kalau ada pihak internasional di antara GAM dan Indonesia. Seperti dulu di zaman Presiden Gus Dur yang menginginkan bertemu langsung dengan pemimpin kami Tengku Hasan di Tiro. Tapi, kami menolaknya mentah-mentah. Tidak ada guna bertemu langsung. Anda tidak meyakini komitmen pemerintah Indonesia untuk menuju solusi Aceh yang damai? Tanyakan saja kepada mereka. Saya tidak tahu apa yang ada di dalam hati (Presiden) Megawati, (Kepala Staf TNI AD) Jenderal Ryamizard Ryacudu, (Menteri Luar Negeri) Hasan Wirajuda. (Upaya terakhir untuk mencegah pemberlakuan darurat militer gagal. Perundingan antara Pemerintah RI dan GAM di Tokyo pada 18 Mei 2003 gagal, setelah GAM menolak tiga syarat yang diajukan Jakarta: GAM harus bersedia menyatakan Aceh tetap bergabung dengan RI, menggudangkan senjata, dan menerima otonomi khusus sebagai penyelsaian masalah Acehs ecara damai—red.). Di luar GAM, kesibukan Anda sekarang apa? Saya tetap sebagai dokter. Sampai sekarang saya masih praktek. Saya spesialis family medicine di sini. Saya memegang status distrik di Premiere Health Center. Masih di Stockholm. Bagaimana Anda mengatur waktu antara keluarga dengan GAM? Tidak tahulah saya itu ha..ha.. Saya tidak bisa menjawabnya karena kadang-kadang ketika saya masih berada di meja operasi mereka sudah telepon...ya terpaksa ditundalah. Saya suruh telepon lagi dalam tempo 15 menit atau 20 menit lagi. Jadi susah, sudah seperti tidak ada batasnya lagi antara GAM dan kehidupan pribadi saya. Omong-omong berapa sih sesungguhnya kekuatan GAM sekarang ini? Dalam hal ini saya tidak dapat mengutarakannya. Untuk alasan strategi pertahanan kami. Maaf. Soal perang di Aceh, apakah pembakaran sekolah-sekolah juga menjadi taktik yang digunakan GAM? Tidak, itu justru taktik TNI untuk menuduh kami sebagai pelakunya. Kami tidak melakukan pembakaran-pembakaran itu. (Menurut laporan penguasa darurat militer Aceh, pihak Komando Operasi telah menangkap sedikitnya tujuh orang yang diduga sebagai anggota GAM yang membakar sekolah di berbagai tempat di wilayah Aceh – red). |