|
Kronologis penangkapan 7 aktivis PDRM 1 dan aktivis FPDRA |
![]() |
|
Pelaku : Aparat Polisi satuan Intel/Serse Mapolresta Banda Aceh Kronologis : Tanggal 25 April pukul 23.00 WIB Aparat dengan menumpangi 2 unit kendaraan merek Kijang kapsul warna silver dan biru donker dan 2 unit sepeda motor jenis trail menangkap 7 aktivis PDRM (Pemuda Demokratik Rakyat Miskin) dan 1 aktivis FPDRA (Front Perlawanan Demokratik Rakyat Aceh) di Jl. Panglateh, Merduati, Banda Aceh. Aparat menuduh mereka terlibat Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Korban kemudian dibawa ke Mapolresta Banda Aceh. Di Mapolresta Banda Aceh, ke-8 korban diinterogasi sambil dipukuli. Tanggal 26 April pukul 09.20 WIB Ke-8 korban dilepas karena tidak ditemukan bukti-bukti keterlibatan korban dalam GAM. Korban :
Bustami arifin ---------------------- KRONOLOGIS PENANGKAPAN
THAMREN ANANDA ( SEKJEND KSO-FPDRA ), ZAMZAMI MOHAMMAD
Tanggal
Sekitar pukul 23 wib kami sedang mengobrol-ngobrol di lantai dua rumah Fakri jalan pang lateh no. 18 Merduati - Banda Aceh. Tiba-tiba datang mobil kijang warna putih metalik dengan plat BL – ( tidak tahu ) dan berdiri di depan rumah. Kemudian fakri pemilik rumah dan juga sebagai ketua DPP-PDRM turun untuk melihat siapa yang datang. Belum sempat fakri membuka pintu, pintu rumah sudah didobrak masuk oleh mereka, dan mereka menodong senjata SS1 ke muka fakri dan memerintahkan fakri untuk naik keatas. Mereka berjumlah sekitar 15 orang yang pertama datang. Setelah itu mereka bertambah banyak dan kami tidak tahu jumlahnya lagi. Yang kami tahu mereka polisi karna ada diantara mereka yang memakai atribut polisi ( dan terakhir pun kami di bawa ke Pelresta Banda Aceh ). Sesampai fakri diatas, kami semua di kumpulkan di sudut ruangan dalam posisi jongkok. Sebagian dari mereka memeriksa ruangan kamar, lemari, tempat tidur dan seluruh isi kamar. Sebagian lagi memeriksa kami. Salah satu dari mereka menanyakan “siapa yang bernama Thamren Ananda”. Kemudian Thamren menunjukkan tangan dan mereka memerintahkan Missa ( orang yang duduk di samping Thamren ) untuk menutup mata Thamren dengan baju warna hitam. Sekitar jam 24 Wib, mereka meminta bantuan tambahan pasukan pada komandannya via hand phone untuk menambah pasukan, “Karna mereka banyak dan kelas kakap semua “ kata mereka. Mereka menuduh kami semua sebagai anggota GAM. Setelah itu kami di turunkan semua ke bawah. Sambil menunggu mobil tambahan dari komandannya kami semua di pukul, di injak-injak, di tendang, di maki, di tampar. Pukul 24:15 Wib. Kami di naikkan ke dalam mobil semua. Dan pada saat di naikkan mobil, Missa juga di ikat matanya dengan kain hitam. Sampai di Polresta Banda Aceh kami di turunkan, kemudian di bariskan lalu di pukul, di tendang dan yang sejenisnya.
Pukul
Setelah di pisah Thamren dan Fakri tidak di pukul lagi, Fakri dan Missa di periksa dan di buat BAP ( berita Acara Pemeriksaan ). Sedangkan Thamren hanya di tanya saja dengan mata terikat kain hitam. Dan Thamren hanya mengalami bengkak di bibirnya. Menurut pendengaran Thamren, kawan-kawan yang lain babak belur di pukul.
Sekitar
pukul
Pukul
Dari pukul
Banda
Aceh,
|