|
Terjemahan transkripsi siaran TV Australian Broadcasting Commission (ABC TV), program “Four Corners” (Empat Penjuru), yang tyelah disiarkan pada tgl 1.09.03 yl dan di ulang kembali ke esokan harinya, di Sydney. |
![]() |
|
Ketika Indonesia memperingati 58 tahun kemerdekaannya, Four Corners meninjau sebuah konflik yang paling berkepanjangan dan tak kunjung mereda ... Perang Saudara Aceh... CHRIS MASTERS, WARTAWAN: Dua minggy yang lalu, Indonesia merakayakan ulang tahun ke 58 kemerdekaannya. Dua minggu sebelum itu, satu lagi serangan teroris meninggalkan pertanyaan-pertanyaan yang mengumandang dengan hebatnya di udara tebal Jakarta. Berapa selamatkah negara ini dan di manakah sebenarnya terletak bahaya-bahaya utama bagi keselamatannya? Di propinsi Indonesia Acheh, yang telah lama berjuang untuk kemerdekaannya sendiri, jumlah kematian seperti di hotel Marriott itu berulang setiap hari, para korbannya umumnya tersembunyi di belakang peraturan-peraturan hukum militer yang sedang dilaksanakan dengan ketat sekali oleh Pemerintah Indonesia. SIDNEY JONES, INTERNATIONAL CRISIS GROUP: Tiada siapapun lagi berada di sana untuk memonitor apa yang sedang terjadi di kawasan-kawasan dimana pihak militer sedang menjalankan operasi-operasinya yang paling dahsyat. CHRIS MASTERS: Perang saudara yang paling lama berlangsung di Asia ini adalah satu lagi Timor Timur, tetapi ia tersembunyi. Dari sebuah basis di hutan orang-orang Acheh ini menyatakan bahwa korban utamanya adalah warga sipil, bukannya pemberontak separatis. PERA LELAKI ACHEH DI SEBUAH KEM DALAM HUTAN DI MALAYSIA: Bukan, bukan GAM. Mereka itu orang biasa. Orang-orang sipil. CHRIS MASTERS: Perdana Menteri Acheh akuan sendiri yang berada dalam pelarian percaya akan adanya waktu untuk menunggu Indonesia menghancurkan dirinya sendiri. MAHLIK MAHMUD, PERDANA MENTERI GAM: Mereka terus membuat lebih banyak masalah-masalah baru yang mereka tidak sanggup selesaikan. Jadi, dalam pandangan kami, Indonesia akan pecah-belah sendiri. CHRIS MASTERS: Soalnya sekarang, pada HuT yang ke 58nya ini, berapa selamatkah Indonesia dari onarnya sendiri? LELAKI ACHEH: Saya menyaksikan sendiri ketika tiga orang nelayan dari Batee datang dengan bot untuk membayar harga bot yang baru dibelinya. Ketika mereka tiba di Meureudu, serdadu-serdadu TNI sedang berada di sana. Serdadu-serdadu tersebut menyuruh bot itu berhenti, tetapi bot itu tidak berhenti. Serdadu-serdadu itu melepaskan tembakan ke arah bot nelayan tersebut. Seorang terkena tembak dan terbunuh. Serdadu-serdadu itu kemudian membawa yang dua lagi ke darat, menelanjangi mereka dan menyuruh mereka melompat-lompat katak. Serdadu-serdadu itu kemudian menyuruh mereka berlutut. Mereka dituduh menjadi anggota GAM dan keduanya ditembak mati di situ juga. Ketika anggota-anggota keluarga mereka datang, terbukti mereka bukan pemberontak, mereka orang sipil biasa. Anggota keluarga mereka itu bermaksud membayar juga harga bot tetapi ketika diperiksa isi kantong mayat-mayat ke tiga nelayan itu, ternyata wang mereka sudah tidak ada lagi. CHRIS MASTERS: Selama lebih 27 tahun sudah, kisah-kisah pembunuhan sewenang-wenang di Acheh berulang-ulang ribuan kali dicertitakan. Tiga bulan yang lalu, serdadu-serdadu Indonesia memasuki Acheh dalam jumlah sangat besar berikutan pernyataan berlakunya Darurat Militer yang memaksa keluar para pemantau asing dari Acheh. LUCY CARVER, PEACE BRIGADES INTERNATIONAL: Pada pertengan bulan Juni, telah diumumkan satu Keputusan Presiden, um, yang mengatur aktivitas orang asing di dalam wilayah Acheh dan kemudian diikuti lagi oleh dua Keppres lainnya. Dan, pada dasarnya, peraturan-peraturan itu dimaksudkan bahwa orang asing tidak boleh lagi bekerja di Acheh tanpat permit khusus. RALPH BOYCE, DUTA AMERIKA DI INDONESIA: Saya pikir agak merisaukan bahwa tiada sama sekali media internasional dan sangat sedikit bantuan antarabangsa atau agensi-agensi sukarela yang masih berada di sana pada masa ini. CHRIS MASTERS: Penyampaian laporan tentang Acheh dikontrol dengan ketat sekali jadi untuk pergi menyelidik ke belakang tirai adalah sesuatu yang sangat susah. Tetapi terdapat ramai saksi. Ramai sekali orang Acheh yang telah melarikan diri dari wilayah itu, membawa bersama mereka pengalaman-pengalaman hidup dan mati yang baru di bawah undang-undang Darurat Militer. FITRIANI, ISTRI SEORANG PANGLIMA GAM: Apabila serdadu-serdadu TNI mendapati beberapa orang pemuda duduk-duduk di kedai kopi mereka selalu akan meminta periksa kartu penduduk masing-masing. Walaupun mereka tidak melakukan apa-apa, TNI akan menembak mati siapa saja yang tidak bisa menunjukkan kartu penduduk. Saya telah banyak kali melihat dengan mata kepala saya sendiri kejadian-kejadian seperti itu. MAJOR-GENERAL SYAFRIE SYAMSUDDIN, JURU BICARA TNI: Menurut norma-norma yang ditetapkan, operasi militer di Acheh adalah berdasarkan kepada kepatuhan pada hukum dan atas prinsip-prinsip operasi militer dan operasi-operasi kemanusiaan. Jadi tuduhan bahwa kami telah bertindak secara tidak wajar adalah tidak benar. CHRIS MASTERS: Selama beratus tahun, sebelum Belanda akhirnya berhasil mengalahkannya, Acheh telah ujud sebagai sebuah kerajaan Islam yang sangat berkuasa dan terkenal akan perlawanannya terhadap pemerintahan kolonial. Perlawanan dalam bentuknya yang sekarang ini adalah Gerakan Acheh Merdeka, atau GAM, yang dibentuk dalam tahaun '70an – pada kira-kira masa yang sama dengan ditemukannya sumber-sumber minyak dan gas bumi di sana. PROFESSOR HAROLD CROUCH, ANU (Universitas Nasional Australia): Nah, kekayaan yang begitu besar di gali dari bumi Acheh atau dari laut di sekitanya, sementara rakyat biasa...rakyat biasa tetap hidup dalam keadaan yang sama. Dan di kawasan itu pulahlah GAM paling kuat. CHRIS MASTERS: Untuk menjumpai pimpinan GAM memerlukan perjalanan yang bahkan lebih jauh lagi ke Sweden. Yang Mulia Teungku, gelar kepala negara gerakan kemerdekaan, adalah Hasan di Tiro. Berusia 72 tahun, bertubuh nampak agak lemah, Di Tiro ingin mengembalikan keagungan kesultanan seperti yang ada sebelum masuknya pemerintah kolonial Belanda. Pemerintahan dalam pengasingan GAM dijalankan dari apartment ini di Stockholm dengan jurubicaranya, Perdana Menteri Mahlik Mahmud. MAHLIK MAHMUD, PERDANA MENTERI GAM: Bagi kami bangsa Acheh, kami selalu berpikir bahwa kami mempunyai negara kami sendiri, dengan hak kami sebagai sebuah bangsa. Tetapi dulu – jauh sebelum ujudnya Indonesia, bahkan dalam hal ini, Australia, Acheh telah pun ujud sebagai sebuah negara yang kuat dan makmur di Asia Tenggara. CHRIS MASTERS: Dari sinlah mereka memimpin operasi-operasi sebuah sayap militer yang diperkirakan berkekuatan sekitar 2,000 hingga 5,000 personil bersenjata, sebahagian kecil saja dari jumlah penduduk Acheh yang sebesar 4.3 juta jiwa itu. SIDNEY JONES, INTERNATIONAL CRISIS GROUP: Lebih kurang seperempat penduduk Acheh bukan dari etnik Acheh, dan dari kalangan penduduk bukan etnik Acheh itu tidaklah begitu besar dukungan kepada GAM. Memang tedapat inti dukungan yang kuat sekali, tetapi dalam lingkungan inti yang mendukung perjuangan kemerdekaan itu pun, tidak setiap orang memandang GAM sebagai kenderaan untuk mencapat kemerdekaan. Ada beberapa orang yang tidak begitu suka kepada GAM, tetapi masih sangat ingin berpisah dari Indonesia. PROFESSOR HAROLD CROUCH: Para perjuang tempatan itu sebenarnya, anda tau…memangnya penduduk tempatan yang telah mengangkat senjata. Mereka itu bukan ahli falsafah agung. Dan bahkan seringkali di masa lalu kalau mereka diwawancarai, mereka sering … Kalau ditanyai soal-soal politik yang susah, mereka berkata, “Yah, tugas kami bukannya untuk bicara soal politik - tanyalah pada Teungku Hasan Tiro di Sweden." CHRIS MASTERS: Dalam tahun 1990an, dalam masa 10 tahun terakhir Presiden Suharto memegang kuasa, telah ada pemusatan usaha untuk menghapuskan kaum separatis. Satu status daerah operasi militer yang dikenal sebagai DOM telah dinyatakan berlaku dengan tujuan untuk menghapuskan gerakan pemberotak yang masih sangat kecil waktu itu. PROFESSOR HAROLD CROUCH: Dan pihak militer bertindak dengan keras sekali terhadap mereka dan tidak ada sama sekali konsep untuk melindungi hak-hak asasi manusia atau apapun. Mereka membunuh orang sesuka hati dan meninggalkan mayat-mayat yang bergelimpangan di jalanan dan hal seperti itu dimaksudkan untuk menakut-nakutkan rakyat Acheh yang lain. Dan itulah yang membawa ke… yang nampaknya telah menjauhkan ramai rakyat dari pemerintah di kawasan tersebut di Acheh, suatu hal yang sememangnya cukup lumrah. CHRIS MASTERS: Masa DOM menggilis mulai dari 1989 hingga 1998. Lelaki ini, yang berkata dia tidak punya hubungan dengan GAM, telah, di sepanjang masa tersebut, disiksa berulang-ulang dalam usaha untuk memaksanya membuat pengakuan. PELARIAN ACHEH: Kemudian mereka memukul saya, mereka memukul saya di sini, mereka memukul saya di seluruh badan. Saya tidak tau berapa kali mereka memukul saya. Kemudian mereka mengambil pisau dan menikam saya dengannya. Ketika saya melihat kilauan cahaya pisau, saya jatuh pingsan. (Menunjukkan bekas luka besar di kakinya). Inilah bekas-bekas luka dari dipukul. Saya tidak merasa apa-apa lagi setelah enam atau tujuh kali pukulan. Tetapi ketika saya mulai berdarah, saya dapat merasakannya. Saya melihat darah, melihat darah tersembur keluar ketika mereka menikam saya. CHRIS MASTERS: Ketika akhirnya dia dibebaskan dan kembali ke rumah, dia mendengar bahwa anggota-anggota keluarganya yang lain juga sudah dijadikan sasaran. PELARIAN ACHEH: Mereka ditembak di kampung Pulo Tambo di Tiro, di depan orang ramai. Menurut ramai sekali saksi, para korban telah disiksa lebih dahulu sebelum dibunuh. Setelah disiksa mereka di tembak. CHRIS MASTERS: Ketika masa DOM akhirnya dicabut pada akhir tahun 1998, kuburan-kuburan massal dijumlai. Tetapi setelah sembilan tahun bergelimpangan darah, GAM masih tetap hidup dan Indonesia malah mendapat lebih banyak lagi musuh di Acheh. SIDNEY JONES: Memang, penentangan telah bertambah kuat karena keganasan telah dilakukan atas nama menumpas penentangan itu. CHRIS MASTERS: Berakhirnya DOM bertepatan dengan berakhirnya era Suharto. Dan di Acheh, masa 'Reformasi' telah meningkatkan gairah perlawanan. Pihak militer Indonesia mencoba untuk menekan gerakan mahasiswa yang tumbuh terus dengan cepatnya yang mendesak supaya diadakan referendum seperti di Timor Timur. MAHASISWA ACHEH: Ketika saya pulang ke kampung dari Banda Acheh dalam masa liburan, saya telah ditahan oleh TNI dan mereka bertanya pada saya, "Kamu mahasiswa?” Saya jawab, "Ya" dan merke terus memukul saya. Mereka memukul saya hanya karena saya seorang mahasiswa. CHRIS MASTERS: Para pemimpin mahasiswa terpaksa lari bersembunyi ketika satu demi satu mereka mendapatkan kawan-kawan mereka ditangkap, dan dalam beberapa kasus malah telah dihilangkan. MAHMUDAL, MAHASISWA AKTIVIS: Begitulah cara tentera dan polisi memperlakukan hampir setiap orang yang ditangkap dengan brutal. Maksud saya, kami di pukul dan di siksa. Kali kedua saya ditangkap, saya bahkan ditelanjangkan dalam sebuah kamar di bangunan DPRD di Banda Acheh. PEMIMPIN MAHASISWA DALAM SUAKA: Rumah-rumah penduduk di kota Idi habis dibakar oleh TNI dan BRIMOB yang ditempatkan di sana. Rumah saya, rumah keluarga saya, dan rumah nenek saya, semuanya dibakar oleh Brimob. Bukan rumah saja yang dibakar. Bila keadaan demikian terjadi orang kampung takut dan melarikan diri. Ada diandara mereka yang ditembak, termasukl seorang kanak-kanak kecil. CHRIS MASTERS: Kejadian-kejadian di kawasan lebih ke Selatan telah memberikan harapan akan impian yang tidak mungkin. Timor Timur telah mendapatkan kemerdekaan setelah ia membawa perjuangannya ke dunia luar. PROFESSOR HAROLD CROUCH: Itu satu hal yang mempunyai kesan yang hebat sekali, yaitu, "Kita kehilangan Timor Timur”. “Kita tidak menghantam mereka dengan cukup kuat. Kita … kita mau berunding dengan mereka, dan kemudian berakhir dengan referendum. Jadi… and orang asing datang dan memberi tekanan atas kita.” Jadi terdapat reaksi nasionalis yang demikian. LESLEY MCCULLOCH, PROF PENYELIDIK UNDANGAN, UNIVERSITAS DEAKIN: Saya pikir bahwa barangsiapa ingin memahami apa sebenarnya yang sedang berlaku di Acheh, mereka hanya perlu berpikir tentang Timor Timur. Apa yang terjadi di Achah adalah bayangan dalam cermin apa yang terlah terjadi di Timor Timur, dan beberapa orang komandan militer yang telah bertanggung jawab atas pelanggaran hak-hak asasi manusia secara besar-besaran yang telah terjadi di Timor Timur sekarang sedang bertugas di Aceh. CHRIS MASTERS: Tiga tahun setelah Timor Timur berpisah, satu usaha baru telah dibuat untuk mencari perdamaian di Acheh. Pihak penengahnya adalah sebuah institusi swasta - Henri Dunant Centre – dengan didukung oleh Jepang dan Amerika di belakang. Dalam bulan Desember 2002, pihak-pihak yang berperang di Indonesia itu mengumumkan gencatan senjata. YUTAKA IIMURA, DUTABESAR JEPANG KE INDONESIA: Orang Acheh sudah dapat menikmati kehidupan yang aman, walaupun tidak lama. Dan, keduanya, untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia dan dalah sejarah Acheh, masyarakat antarabangsa, uh...menunjukkan kesediaan mereka untuk mendukung proses damai, dan juga kesediaan mereka untuk membantu rekonstruksi, rehabilitasi di wilayah Acheh. CHRIS MASTERS: Pihak mediator mendapat tugas yang susah sekali, yaitu untuk membawa kedua belah pihak berdamai sedangkan masing-masing mempunyai maksud yang bertentangan arah. Orang Acheh tidak mau melepaskan perjuangan kemerdekaan. Orang Indonesia todak mau menyerahkan kedaulatan. Apa yang diharapkan oleh mediator hanyalah dengan bertahap-tahap kedua belah pihak akan terbiasa dengan ide perdamaian. Sekurang-kurangnya mendapatkan penyelesaian yang ditunda? RALPH BOYCE, DUTA AMERIKA KE INDONESIA: Untuk masuk ke dalam proses di nama sikap saling percaya bisa dibentuk oleh proses itu sendiri. Saya pikir kedua belah pihak menyedari bahwa mereka masih jauh sekali dari mencapai tahap itu. Malangnya, mereka tidak berhasil mendapatkan proses tersebut benar-benar berjalan. CHRIS MASTERS: Seorang sarjana yang berpangkalan di Australia- Dr Lesley McCulloch menyaksikan disintegrasi proses perdamaian di Acheh dari belakang tirai besi. Setelah gencatan senjata bermula, McCulloch dan seorang jururawat Amerika telah dipenjarakan Indonesia dengan tuduhan membantu pejuang separatis. LESLEY MCCULLOCH, PROF PENYELIDIK JEMPUTAN, UNIVERSITAS DEAKIN: Kami menyaksikan orang-orang yang ditendang dimuka dan dirusuk, dipukul dengan popor senapang, dipukul dengan kayu dan dengan tongkat, dipukul dengan buku-buku tebal, disirami air – pendeknya di aniaya dengan segala maca cara yang mungkin anda bayangkan. Kami melihat orang-orang yang muka mereka telah koyak dipukul. Kami melihat mereka yang tulang rusuk sudah patah dan kaki patah. Pemandangan yang ... Itu semua adalah pengalaman yang paling dahsyat pernah kami rasai dalam keseluruhan masa itu… selama 5 bulan saya ditahan. CHRIS MASTERS: Pada bulan Maret tahun ini, pemantau-pemantau Dewan Bersama Keselamatan (Joint Security Council) telah diserang dan, dalam bulan April, di undurkan. Para pemerhati umumnya menyalahkan TNI. Kedua belah pihak, GAM dan militer Indonesia dicuriagi melakukan penyelewengan perjanjian, dengan GAM menggunakan kesempatan itu untuk membangun kekuatannya dan TNI bertindak sebagai pihak yang tidak mau berdamai. SIDNEY JONES, INTERNATIONAL CRISIS GROUP: Di pihak TNI, mereka memang dari semula tidak pernah mau berunding. Mereka menganggap perundingan sebagai tanda kelemahan. Mereka memandangnya sebagai satu kesilapan pemerintahan Abdurrahman Wahid yang telah bersedia berunding dengan pemberontak, dan mereka telah dipaksa datang ke meja perundingan oleh pendapat dunia internasional dan kekuatan 'Reformasi', tetapi mereka sebenarnya tidak tertarik sedikitpun ke arah itu, dan ketika perjanjian penghentian permusuhan - COHA - the Cessation of Hostilities Agreement – tercapai di bulan December, orang mendapati dua pihak yang tidak saling percaya sama sekali. CHRIS MASTERS: Ketika perundingan hendak dimulai kembali di Tokyo dalam bulan Mei, polisi Indonesia menangkap lima perunding GAM. MUHAMMAD NUR DJULI, PERUNDING SIPIL UNTUK GAM: Kenyataan bahwa mereka menahan kami … separuh dari team perunding kami di Acheh, apa maknanya itu? Itu adalah untuk, uh...anda tau, bulldoze perundingan, untuk, uh...menggagalkannya. Bagaimanakah orang bisa berunding kalau separuh dari timnya disandra? RALPH BOYCE: Saya pikir terdapat ketidak saling percayaan di kedua belah pihak yang akhirnya menjahanamkan perundingan itu. LESLEY MCCULLOCH: Itu sudah jelas, nah jauh sebelum perundingan di Tokyo bermula, Indonesia sudah mengakhirinya. Telah menyusup internasionalisasi masalah Acheh, dan itu sudah terlampau bagi Indonesia. CHRIS MASTERS: Pada 17 May, perundingan gagal. Keesokan harinya, darurat militer diberlakukan di Acheh dan pasukan tentra mengalir masuk. Angkatan laut, angkatan udara, kenderaan-kenderaan perisai baja, dan 40,000 serdadu dan polisi tiba di Acheh dan memberi waktu enam bulan untuk mereka sendiri menghapuskan antara 2,000 hingga 5,000 gerilya GAM. Korban kehancuran awal adalah sistim pendidikan bangsa Acheh. Dalam masa tiga bulan, hampir 600 sekolah telah dibakar, yang menjadikan cita-cita masa depan satu generasi bangsa menjadi asap. PEREMPUAN KAMPUNG: Mereka mau menjadikan bangsa Acheh bodoh. CHRIS MASTERS: Sebagaimana lazim dalam setiap konflik, kedua belah pihak nampaknya mengipas-ngipaskan api. PEKERJA BANTUAN HUKUM: Sekolah-sekolah itu dibakar oleh kedua belah pihak, TNI dan GAM. Saya pikir GAM membakar sekolah untuk menunjukkan bahwa dengan adanya keadaan darurat militer, kegiatan-kegiatan masyarakat akan terhenti secara total. Tetapi TNI juga membakar sekolah-sekolah karena mereka mau mengisolasi GAM. CHRIS MASTERS: JARI Indonesia, sebuah LSM penyiasat, menganggap korupsi sebagai punca taktik tersebut, dengan pihak militer mengambil bayaran komisi bagi dana pembangunan kembali. FAKHRULSYAH MEGA, JARI INDONESIA: Dengan menggunakan personel Genie TNI untuk membangun kembali sekolah-sekolah yang terbakar, mereka bisa menekan biaya pembangunan, tetapi masih menerima peruntukan uang yang penuh untuk pembangunan tersebut. Skim ini dibuat untuk kontraktor swasta tetapi yang menjalankan kerja militer. CHRIS MASTERS: Tentera Indonesia, TNI, dan musuh-musuhnya sama-sama memerlukan biaya hidup dari negeri Acheh. Hampir 70 % biaya operasi TNI diperoleh dari perusahaan-perusahaan tempatan. Acheh, satu daerah yang relatif kaya, merupakan tempat memungut hasil yang banyak. LESLEY MCCULLOCH: Saya telah, selama empat tahun terakhir ini, mendokumentasikan data-data dari seluruh Acheh sebagai bukti adanya kegiatan business tidak sah di segala lapisan. Um, saya telah melihat [militer dan polisi] terlibat dalam perusahaan kayu dan perikanan dan perdagangan binatang liar, ekonomi narkotika, penyelundupan senjata, dan taraf ekonomi memeras pedagang kecil seperti mengambil apa saja yang mereka mau dari kedai-kedai, dsb. CHRIS MASTERS: Suasana tidak aman menimbulkan kesempatan pemerasan, dengan kedua belah pihak meminta bayaran perlindungan. Perusahaan gas bumi AS, ExxonMobil – yang terpaksa tutup pada satu ketika karena pertempuran – merupakan client TNI paling kaya. PROFESSOR HAROLD CROUCH: Denagn satu jalan atau lainnya, bayaran dibuat kepada militer. Nah, mereka...Exxon, para pejabat tinggi perusahaan, berkata, "Well, kami...militer memberikan kami perkhidmatan-perkhidmatan perlindungan. Dan kami, tentunya, harus membayar untuk itu." Tetapi dari apa yang terlihat, jumlah bayarannya jauh lebih besar dari yang patut sebagai bayaran upah penyelenggaraan kerja-kerja keselamatan. CHRIS MASTERS: Korupsi tidak hanya terbatas pada militer. Pemerintahan sipil di Acheh juga mempunyai reputasi yang sangat buruk karena memerah kekayaan untuk diri mereka sendiri dan untuk Jakarta. LESLEY MCCULLOCH: Well, Acheh memangnya sebuah propinsi yang paling kaya di Indonesia. Dan Gubernur Abdullah Puteh dan wakilnya dan ramai lagi kaum politik elit, um...diketahui memangkas jumlah uang yang banyak sekali dari berbagai dana yang diberikan pemerintah pusat untuk pembangunan – untuk bantuan kebajikan, untuk bantuan banjir, dsb. Banyak sekali dari dana-dana tersebut tidak pernah sampai ke tujuannya...ke tujuannya di kampung-kampung dan kepada orang-orang yang sebenarnya dimaksudkan. CHRIS MASTERS: Sekatan jalan – yang terdapat banyak sekali – adalah poin-poin pungutan liar yang umum. PROFESSOR HAROLD CROUCH: Tetapi salah satu dari masalahnya dalam hal ini, tentunya, ada terdapat dua institusi – polisi dan tentera – dan kadang-kadang kerja keduanya di kawasan-kawasan di mana mereka mau mengumpul dana, bertindih-lapis. Dan dari waktu ke waktu di Indonesia, bukan saja di Acheh, benar-benar terjadi pertempuran tembak-menembak antara mereka. FAKHRULSYAH MEGA, JARI INDONESIA: Acheh ini seperti supermarket: sebuah supermarket tempat berjual beli senjata, supermaket berjual beli karya, supermaket untuk jabatan politik, seper market untuk segala macam aktivitas, termasuk untuk korupsi. CHRIS MASTERS: Adakah Jakarta memberi perhatian yang serius tentang perlunya membatasi korupsi? SIDNEY JONES, INTERNATIONAL CRISIS GROUP: Tidak, Jakarta tidak melihat apapun, uh... Jakarta bukan saja tidak punya program membanteras korupsi, dan bahkan tidak melakukan apapun ke arah membentuk rangka atau bentuk untuk mencari akar kebobrokan sistim politik ini, tetapi pemerintahan Megawati sendiri, dari atas hingga ke bawah, adalah satu pemerintahan yang korup dan beracun. CHRIS MASTERS: Korban pertama korupsi adalah mereka yang lemah. Para petani kecil dan orang-orang kampung sangat terdedah pada strategi militer untuk membersihkan kawasan perkampungan [dari pengaruh GAM]. Tentera masu kampung, penduduknya lari keluar, teorinya adalah siapa saja yang masih tinggal sudah pasti GAM. PROFESSOR HAROLD CROUCH: Mereka masuk begitu saja untuk mencari seseorang dan menembak siapa saja yang mereka jumpai dalam kampung. Orang-orang kampung dipaksa pindah ke kemah-kemah pengungsian untuk beberapa minggu sementara kampanye pembersihan berjalan. Nah kemudian, orang kampung itu, tentunya, merasa kuatir tentang keselamatan ternakan kambing dan ayam mereka dan barang-barang seperti TV set dan apasaja yang ada di dalam rumah. Jadi pihak militer berkata - "Tidak, jangan takut, kami jamin semuanya akan selamat." Dan memang benar, penduduk disuruh pulang ke kampung mereka setelah beberapa waktu, dan tidak ada lagi kambing, tidak ada TV. Jadi, siapa tau siapa yang mengambilnya? CHRIS MASTERS: Sedar akan reputasinya yang buruk sekali setelah keganasan yang mereka buat di Timor, tentera telah membuat beberapa usaha untuk memperbaiki imejnya. Video promosi menunjukkan tentera dalam bentuknya yang dipersembahkan sebagai pelindung orang kampung dari penindasan GAM. MAJOR-GENERAL SYAFRIE SYAMSUDDIN: Satu hal yang paling menarik dari perkembangan operasi-operasi milter, dari operasi terpadu yang sekarang sedang dijalankan di Acheh, adalah suasana dalam masyarakat yang telah bertambah selamat dan aman sebagai terbukti di hari-hari menjelang 17 Agustus 2003. Perkembengan kedua adalah kegairahan rakyat untuk memainkan peranan dalam membangun keselamatan dengan memberi informasi kepada pasukan-pasukan keamanan berkenaan keberadaan pemberontak GAM di Acheh. CHRIS MASTERS: Secara tipik, ketika penduduk kembali ke kampung-kampung mereka, mereka akan menjumpai mayat. Secara tipik, kalau yang mati itu orang sipil, TNI menyalahkan GAM. Dan mereka bukannya selalu tidak betul. GAM, sering tidak dikontrol dengan betul dan tidak begitu terpadu, juga mempunyai sejarah pemerasan dan pembunuhan balas dendam. MOHAMMED NUR DJULI, PERUNDING SIPIL UNTUK GAM: Mereka itu pasukan gerilya. Mereka tidak 100% terdiri dari unit-unit yang terkontrol. Terdapat bahkan anggota-anggota, individu yang pergi ke Malaysia, bekerja di sana dua-tiga tahun, menyimpan sedikit uang, dan membeli senjata untuk dibawa pulang [ke Acheh] dan kemudian menamakan diri GAM. Mungkin dia menyaksikan ayahnya dibunuh dan dia ingin membalas dendam. Jadi adakah terdapat pelanggaran HAM oleh GAM? Saya yakin. MAHLIK MAHMUD, PERDANA MENTERI GAM: Di pihak kami, kami mengalu-alukan internasional, er, team investigasi internasional, terutama penyelidik khusus dari PBB untuk menjalankan, er...pelanggaran-pelanggaran HAM oleh kedua belah pihak. CHRIS MASTERS: Saksi-saksi yang kami jumpai menyatakan tentera Indonesia adalah pelanggar HAM yang paling buruk, dengan unit-unit yang kurang terlatih seperti unit gerak cepat polisi, Brimob, sebagai pelanggar yang jelas sekali. Kami diberitau bahwa sekelompok wanita telah menuduh Brimob memperkosa mereka. Segera setelah itu, polisi menangkap kelompok wanita tersebut dengan penasehat bantuan hukum mereka sekali yang kemudian menyaksikan berlakunya intimidasi dan hasilnya. PEMBANDU NASEHAT HUKUM: Kamai ditangkap pada waktu pagi dan diinterogasi dalam kamar-kamar yang berbeda. Pada malam itu, kira-kira pukul 11, mereka menyatukan kami bersama kembali. Saya menjumpai kelima korban dan tiba-tiba mereka menukar pernyataan mereka secara total. Mereka berkata mereka bukan diperkosa oleh Brimob, tapi oleh GAM. CHRIS MASTERS: Seorang saksi lainnya yang dibebaskan dari sel tahanan dalam mana terdapat dua kepala manusia yang sudah dipotong berkata bahwa dia telah dibawa ke dalam sebuah kamar dan dipaksa menyaksikan seorang wanita diperkosa. LELAKI ACHEH: Mereka memperkosa perempuan itu. Saya sangat terkejut. Mereka memperkosanya dan dia menjerit minta tolong. Saya tidak dapat membantunya. Kata mereka, "Kalau kau berani, itu ada senjata di atas meja. Pertahankanlah dia." Saya betul-betul jadi lemah. Saya tidak dapat berbuat apa-apa selain dari melihat saja sementara perempuan itu diperkosa di depan mata saya. CHRIS MASTERS: Dia kemudian dilepaskan, katanya, dan disuruh menyimpan rahasia itu, kalau tidak hal yang sama akan berlaku atas keluarganya. Tidak semuanya dapat ditutup. Indonesia telah membawa ke depan pengadilan di Acheh beberapa serdadunya karena kelakuan sewenang-wenang seperti memperkosa. MAJOR-GENERAL SYAFRIE SYAMSUDDIN: Kami mengakui ada terjadi ekses-ekses dalam masa operasi. Pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh prajurit-prajurit kami baik secara individu dalam masyarakat maupun sebagai prajurit pada waktu melakukan aktivitas-aktivitas operasi. Tetapi tindakan segera telah diambil, jadi penyelewengan-penyelewengan operasi tidak bisa dikatakan sebagai pelanggaran sebab mahkamah sudah mengambil tindakan hukum. CHRIS MASTERS: Tetapi terlalu banyak yang masih belum berubah. Memandang ke dalam kegelapan hati Acheh menunjukkan kemunculan kembali strategi-strategi yang telah gagal di Timor Timur. Di sini, milisi yang tidak berbaju seragam bertempur berganding bahu bersama TNI. LESLEY MCCULLOCH, PROF PENYELIDIK JEMPUTAN, UNIVERSITAS DEAKIN: Mereka tidak punya disiplin sama sekali, dan masalahnya di Acheh, maupun di tempat-tempat lain di Indonesia ramai anggota tentera dan juga polisi tidak memakai pakaian seragam, jadi susah sekali untuk mengetahui siapa, umpamanya, membakar sekolah, siapa menembak sipulan atau sipulen, siapa memperkosa perempuan dan siapa yang bertanggungjawab atas pemerasan, karena adalah menjadi hal biasa saja bagi mereka untuk tidak memakai pakaian seragam, bagi mereka untuk datang dengan truk yang tidak bertanda, bagi mereka untuk pesiaran dengan sepeda motor yang biasanya telah mereka curi dari orang-orang tempatan. Ramai anggota militer dan ramai anggota Brimob, yang masih sangat muda. Mereka sangat tidak terlatih. Tentunya mereka juga bergaji sangat rendah, mereka takut, mereka waswas, dan semua itu menyebabkan mereka bertindak dengan cara yang sangat berbahaya. Dan mereka bersenjata, yang membuat mereka lebih berbahaya lagi. Jadinya mreka itu muda, tidak terlatih, waswas dan bersenjata. Itu satu kombinasi maut. PROFESSOR HAROLD CROUCH: Nah, mungkin disiplin masih bisa dipertahankan di kalangan serdadu-serdadu seperti itu untuk sesuatu kampanye yang hanya berlangsung beberapa bulan. Tetapi makin lama ia berlangsung, makin akan tidak berdisiplin mereka jadinya. SIDNEY JONES: Kenyataan bahwa beberapa perubahan mungkin sudah dilaksanakan di tingkat atas, tidak ada perubahan fundamental apapun telah dibuat dalam struktur latihan, atau ideologi, atau imej yang dipunyai oleh tentera tentang dirinya sendiri sebagai pengawal keutuhan nasional negara, dan siapa saja yang tidak mengakui akan pandangan itu maka dia itu dianggap musuh. CHRIS MASTERS: Ada lagi satu konklusi yang tidak bisa dihindari – bahwa makin lama darurat militer merangkak terus, jauh dari bisa menghancurkan GAM, Indonesia malah menambah ramai anggota baru untuk GAM. FAISAL, PETANI: Tidak sehari berlalu di Acheh tanpa adanya keganasan dan ekses-ekses dilakukan TNI. TNI datang mencari pejuang GAM, yang mereka katakan sebagai pemberontak dan pengkhianat. Tetapi bila mereka tidak bisa menjumpai pejuang GAM, mereka beralih kepada orang biasa untuk dibunuh. HAJI IBRAHIM, PEDAGANG: Saya sedar di Acheh memang sudah tidak ada hukum, orang dibunuh begitu saja, ditangkap, dihakimi dan dihukum sesuka hati. Karenanya kami tidak dapat mempertahankan diri, kami tidak punya apa-apa untuk mempertahankan diri. Saya ini sudah tua tetapi mereka masih bertayakan tentang saya, mereka mau memperlakukan saya sesuka hati mereka. PELARIAN ACHEH: Saya tidak ada hubungan sama sekali dengan GAM. Tetapi sebenarnya, saya ingin membalas dendam, sebab ramai anggota keluarga saya yang sudah dibunuh TNI dan abang saya sudah diculik. PEKERJA BANTUAN HUKUM: Saya pikir orang-orang kampung berada di dalam keadaan yang sangat susah, karena mereka tidak bisa menjauhkan diri dari GAM. Ini mungkin karena suami, anak atau saudara mereka yang menjadi anggota GAM. Kemudian, di pihak lain, ketika TNI masuk mengadakan operasi di kampung-kampung, mereka memaksa orang kampung memberitahu keberadaan anggota GAM. CHRIS MASTERS: Di jalan-jalan di Jakarta pada perayaan Hari Kemerdekaan, terlihat tanda-tanda bangkitnya kembali perasaan nasionalisma. Tetapi untuk sebahagian besar dari 220 jiwa rakyat Indonesia, memberikan kemerdekaan bagi Acheh tidak menjadi satu pilihan. EDWARD ASPINALL, PENSYARAH, UNIVERSITY OF SYDNEY: Hanya sedikit sekali orang yang mau, uh...bisa ataupun sekedar membiarkan Acheh di satu hari nanti berpisah dengan Indonesia. Oleh karena itu, sebab operasi-operasi militer yang dimulai baru-baru ini di sana telah mendapat dukungan luas dalam jajakan-jajakan pendapat, anda tau, diskussi di radio, dsb., yang, hampir tanpa kecuali, menunjukkan bahwa, anda tau, satu bagian besar, sangat besar masyarakat yang tentunya aktif dalam kehidupan politik, mendukung dengan kuat cara militer keras yang telah diambil. BULETIN BERITA INDONESIA: Operasi militer di Acheh telah menunjukkan dampak besar atas kehidupan rakyat… CHRIS MASTERS: Jakarta melaporkan kemajuan telah di capai di Acheh dengan perang dan damai. MAYOR-JENDRAL SYAFRIE SYAMSUDDIN: Salah satu prinsip di Acheh adalah kita mesti memenangi hati rakyat. Ini adalah satu operasi untuk memenangi rakyat dan mempengaruhi mereka supaya tidak terperangkap atau ditipu oleh propaganda atau tertangkap dalam perangkap yang dipasang oleh GAM.
CHRIS MASTERS: Di Acheh,
demokrasi adalah di pimpin. FAISAL, PETANI: Saya, sebagai orang Acheh, terpaksa meninggalkan istri dan anak berumur 2 tahun. Saya terpaksa pergi sebab mereka (TNI) menuduh saya seorang teroris, seorang separatis. HAJI IBRAHIM, PEDAGANG: Saya telah menghapus semua jejak masa lampau saya. TNI menganggap kami sampah, walaupun dalam kenyataannya saya tidak pernah berbuat salah dalam hidup saya. Saya selalu melakukan hal-hal yang betul. Tetapi sekarang saya tidak bisa lagi tinggal di rumah saya sendiri. Saya telah memindahkan keluarga saya ke Acheh Timur dan saya sendiri kemari mencari perlindungan di Malaysia. CHRIS MASTERS: Tetapi di Malaysia pun, orang Acheh tidak selamat. Betul-betul di hadapan pagar kantor Komisi Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR), kami menyaksikan apa, yang bagi orang Acheh, merupakan satu detik yang menghentikan detak jantung. Diantara mereka dan pendaftaran sebagai pengungsi berbaris Polisi Malaysia. Satu demi satu, dengan UNHCR hanya bisa memandang tanpa bisa berbuat apa-apa, mereka ditangkap dan dibawa ke penjara. Ke esokan harinya, Pemerintah Malaysia menyatakan bahwa 250 pendatang Acheh akan diantar pulang ke Indonesia untuk menghadapi nasib yang tidak diketahui. MUHAMMAD NUR DJULI, PERUNDING SIPIL GAM: Ramai orang telah dibunuh ketika kembali ke sana, berapa ramai, saya tidak tau. Mungkin saya bisa katakan antara 30 hingga 40 persen dari mereka yang dipulangkan telah ditangkap. Dan kemudian apa yang terjadi pada mereka setelah itu hanya bisa dikategorikan sebagai “hilang”. CHRIS MASTERS: Indonesia sekarang sudah sampai ke pertengahan program 6 bulan yang ditentukannya sendiri untuk membersihkan propinsi Acheh dari GAM. Sementara itu telah ada beberapa pernyataan untuk mengubah taksiran tersebut yang kini dipikir mungkin memerlukan bertahun-tahun. SIDNEY JONES: Pada saat ini, pihak militer sudah pun bicara tentang memperpanjangnya, bukan hanya memperpanjang untuk enam bulan lagi. Tidak nampak ujung di ufuk pandangan dan tidak ada strategi jalan keluar direncanakan untuk mereka bisa keluar. CHRIS MASTERS: Apakah anda pikir TNI akan mencapai penyelesaian cara militer? Mungkinkah itu dicapai? RALPH BOYCE, DUTA A.S. KE INDONESIA: Saya pikir Pemerintah Indonesia sendiri pun telah menyatakan secara terbuka bahwa ini bukan satu masalah yang bisa diselesaikan dengan cara militer saja. Ia harus mempunyai satu penyelesaian politik yang bisa bertahan. Mestilah ada konsesi dan perundingan. Jadi saya pikir jawabannya ialah “tidak”, ini bukanlah sesuatu yang dapat diselesaikan dengan kampanye militer. CHRIS MASTERS: Di belahan lain dunia ini, pemimpin GAM mempunyai kepercayaan bulat bahwa kemerdekaan akan tercapai. MAHLIK MAHMUD, PERDANA MENTERI GAM: Ini adalah perjuangan kami. Jadi itu membuat kami sangat kuat. Kami tau apa yang dilakukan oleh setiap orang kami. Dan kami dapat merasakannya. Bangsa Acheh dapat merasakannya. Kami dapat merasakan perasaan rakyat di Acheh, bahkan...mereka sudah menderita. Kami berada di sini, OK. Tidak ada sesiapapun menyentuh kami, betul. Kalau mereka mereka dibunuh, kami merasakannya, kami menangis. Kami merasakannya, dan itu bukan berarti membuat kami lemah – itu membuat kami lebih kuat. CHRIS MASTERS: GAM kini mengakui apa yang selama ini diduga – bahwa taktiknya adalah menunggu musuhnya menghancurkan diri. MAHLIK MAHMUD: Karena Indonesia, sebenarnya, ia adalah negara buatan. Ia adalah satu negara yang dipaksakan atas kami. SIDNEY JONES: Saya pikir itu adalah satu khayalan dipihak GAM. Saya tidak pikir ia akan terjadi. Dan saya pikir kalau itulah strategi tertinggi GAM, ia akan gagal. Masalahnya ialah setiap kali ada darutat baru dilaksanakan, atau operasi militer baru, apa yang dibuat adalah menanam benih-benih baru untuk generasi baru para pemberontak. CHRIS MASTERS: Walaupun adanya kemiskinan, walaupun adanya terrorisma, walaupun gerakan-gerakan separatis di Acheh dan di Papua Barat, tetangga kita di sebelah utara masih utuh, walaupun adanya organisasi yang sepatutnya menjadi perekat persatuan. Di dalam vacuum itulah pimpinan TNI sekarang ini telah dibenarkan menjalankan missinya di Acheh. SIDNEY JONES: Kalau anda menimbang masa waktu Pemerintahan Suharto dan melihat sepanjang tahun 1998, adalah jelas TNI, dalam banyak hal, adalah kuasa destabilisasi, karena daerah-daerah yang bergolak, terutama sekali setelah Suharto jatuh, adalah daerah-daerah di mana TNI telah membawa kepada kesengsaraan yang sebenarnya dikalangan penduduk. Jadi jauh dari menjadi perekat yang mengikat bersama negara yang berbagai rupa ini, sebagaimana ramai orang ingin menggambarkannya, saya pikir, dalam banyak hal, TNI malah berlaku sebaliknya. PROFESSOR HAROLD CROUCH: Memang begitulah, daerah-daerah yang diduduki militer dalam jumlah besar kemudiannya timbul masalah yang paling besar dengan rakyat yang ingin merdeka. Jadi bahan perekat itu ternyata tidak begitu bagus, menurut pendapat saya. CHRIS MASTERS: Missi ke Acheh itu akan menjadi satu test bagi TNI. Darurat militer sudahpun berkembang menjadi malapetaka. Simbol yang sebenarnya perjuangan ini adalah merah melambangkan darah dan putih melambangkan tulang-tulang rakyat. Dalam waktu enam bulan, duabelas bulan, bila tabir yang menutup Acheh akhirnya tersingkap, siapa yang akan cukup berani untuk berkata bahwa mereka tidak akan menggali lebih banyak lagi kuburan-kuburan massal di Acheh? |