SENAT AS  LARANG PEMERINTAH AS BERI LATIHAN MILITER UNTUK INDONESIA.

TERJEMAHAN

Washington DC, 29 Oktober 2003.

Dewan Senat Amerika Serikat menyatakan dengan keras ketidaksenangan hatinya atas tidak adanya kemajuan dalam pengusutan kasus pembunuhan 2 warganegara AS di Papua Barat dan telah mengambil keputusan dengan suara bulat melarang pemeritah AS memberikan latihan militer di bawah program IMET kepada Indonesia.

Dua resolusi keputusan untuk itu telah dikeluarkan, satu dalam rangka undang-undang pembiayaan bantuan militer untuk negara-negara asing yang disponsor oleh Senator Wayne Allard, anggota partai Republican dari Colorado, dan yang satu lagi merupakan amandemen terhadap kebenaran yang telah dilulusakan sebelumnya, dengan mengenakan syarat: "Normalisasi berbentuk apa saja dalam hubungan militer antara AS dan Indonesia tidak boleh dimulai hingga kerjasama penuh diberikan kepada FBI dalam investigasi terhadap insiden hadang-tembak tanggal 31 Aug. 2002 di Timika, Papua Barat, yang telah membunuh 3 orang dan mencederai 11 orang Amerika dan Indonesia, dan sehingga pihak yang bertanggungjawab bagi pembunuhan itu berhasil dibawa ke pengadilan".

Amandemenb Feingold menambahkan selanjutnya "penghormatan terhadap hak-hak asasi manusia masyarakat sipil oleh pihak militer Indonesia adalah sangat penting bagi masa depan hubungan antara Amerika Serikat dan Indonesia".

Dalam sebuah interview ketika melawat Bali baru-baru ini, Presiden Bush berkata: "Congress telah mengubah sikapnya dan sekarang siap-sedia memberikan bantuan militer kepada Indonesia sebab adanya kerjasama dari pemerintah Indonesia dalam peristiwa pembunuhan dua warganegara Amerika".

"Jelas sekali, Presiden Bush telah keliru. Congress masih sangat tidak senang hati karena tidak adanya kemajuan dalam penyelidikan atas pembunuhan teroris di Papua itu," kata Karen Orenstein, Koordinator untuk Washington dari East Timor Action Network, sebuah NGO yang terus-menerus berkampanye dengan giat sekali untuk menentang pemulihan hubungan militer dengan Indonesia karena kebrutalan TNI di Timor Leste dan di Acheh. "Amerika Serikat mempunyai kepentingan nasional dalam proses pendemokrasian di Indonesia, untuk ujudnya sebuah negara Indonesia yang menghormati hak-hak asasi manusia dan mengambil tindakan yang tegas terhadap para pelanggar. Sejarah menunjukkan bahwa latihan militer yang diberikan kepada Indonesia tidak pernah membantu proses ke arah itu", tegasnya.

http://etan.org/news/2003a/10sen.htm