|
Laporan Insiden Pasca Perundingan Helsinki IV (26
Juni 2005).
Sabtu, 25 Jun 2005 pukul 07:30. (Updated).
Pasukan TNI mengepung dan menyerang dengan melepaskan tembakan-tembakan ke
arah posisi defensif pasukan TNA di Dusun Balèë Kuyuën Kampung Darul
Aman-Peusangan, Bireuën, karena tidak dapat menghindari lagi pasukan TNA
terpaksa membalasnya sebagai upaya mempertahankan diri, sehingga terjadi
pertempuran. Menurut informasi di lapangan, 4 personil TNI tewas dan 2
luka-luka kritis. Satu unit Helikopter TNI mendarat di lapangan bola kaki
di Kampung Tanjông Beuridi-Peusangan, Bireuën, untuk mengevakuasi personil
TNI yang tewas dan luka-luka dalam insiden itu, kemudian 1 unit kenderaan
tempur Panser dan 7 unit truk Reo pasukan bala bantuan TNI ditambahkan ke
lokasi itu, mereka melakukan penyisiran. Dalam insiden tersebut, 3
personil TNA syahid, masing-masing:
1. Ilyas bin Idris, 30 th, Kampung Pulo Awé-Gandapura, Bireuën.
2. Faisal bin Usman, 28 th, Kampung Paya Cut-Juli, Bireuën.
3. Bustami bin Basyaruddin, 20 th, Kampung Aluë Udeuëng-Peusangan,
Bireuën.
Ketiga korban adalah personil TNA Daèrah III Wilayah Batèë Iliek, senjata
yang digunakan ketiga korban berhasil diselamatkan oleh rekan-rekannya.
Sabtu, 25 Juni 2005 pukul 08:30.
Pasukan SGI (Parako/Kopasus) pos di Keudè Geureubak-Bandar Alam, Acheh
Timur, memerintahkan secara paksa kepada 16 Kepala Kampung (Keuchik)
se-Kecamatan Bandar Alam yaitu untuk membawa warganya masing-masing ke
lapangan Kota Idi Rayek, Acheh Timur, pada hari Minggu, 27 Juni 2005 untuk
melakukan demo dengan tuntutan:
1. Anti Dialog GAM-RI.
2. Menolak dilakukan gencatan senjata GAM-RI.
3. Menolak keterlibatan pihak Internasional dalam menyelesaikan konflik di
Atjèh.
Sabtu, 25 Juni 2005 pukul 10:30.
Pasukan TNI (Rajawali) Kostrad Yon 408 melakukan operasi militer untuk
mencari anggota TNA/GAM ke Kampung Nes Sa-Indra Makmur, Acheh Timur.
Eksesnya:
Mereka menculik dan membunuh seorang warga sipil, Hanafiah bin Cut GAM, 42
th, warga Kampung Nes Sa-Indra Makmur, Acheh Timur, pekerjaan: Petani,
korban dibawa dan dieksekusi mati di dalam kebun karet di kampung
setempat, kemudian diambil oleh warga dalam kondisi penuh bekas penyiksaan
berat di tubuhnya dan dalam keadaan tergantung di pohon dalam kebun karet
di kampung setempat.
Sabtu, 25 Juni 2005 pukul 18:00.
Pasukan TNI Kostrad pos di Meunasah Pulo-Sawang, Acheh Utara, melakukan
operasi militer untuk mencari anggota TNA/GAM ke Kampung Blang
Reuliëng-Sawang, Acheh Utara.
Eksesnya:
Mereka menganiaya seorang anak usia di bawah umur, Hamdani bin Murni, 15
th, warga Kampung Blang Reuliëng-Sawang, Acheh Utara. Korban dianiaya
karena tidak bersedia menunjukkan keberadaan anggota TNA/GAM.
Sabtu, 25 Juni 2005 pukul 22:00.
Pasukan TNI Kopassus pos UDKP Indrapuri, Acheh Besar, melakukan operasi
militer untuk mencari anggota TNA/GAM ke Kampung Limo Blang-Indrapuri,
Acheh Besar.
Eksesnya:
Mereka menculik seorang warga sipil, Zulkifli, 55 th, warga Kampung Limo
Blang-Indrapuri, Acheh Besar, korban diculik di rumahnya, dibawa dan
disandera di pos TNI Kopassus tersebut, sampai sekarang tidak diketahui
nasibnya.
Minggu, 26 Juni 2005. (diterima informasi).
Pihak TNI Makodim Kabupaten Acheh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah, telah
mengeluarkan surat perintah kepada seluruh masyarakat di dua Kabupaten
tersebut, yang disebarkan melalui Makoramil di setiap kecamatan diteruskan
kepada camat dan seluruh keuchik di kampung-kampung, surat perintah
tersebut yang isinya; "Menolak kehadiran tim monitoring international di
Acheh dan meminta agar masyarakat berbuat anarkhis seperti pengrusakan dan
pembakarakan kantor Joint Security Committee - Henry Dunant Center (JSC -
HDC) Takengon, semasa berlakunya Cessation of Hostilities Agreement (CoHA)
di Acheh sekitar 2 tahun yang lalu".
Minggu, 26 Juni 2005.
Enam warga sipil (termasuk perempuan) yang sebelumnya pada hari Selasa, 21
Juni 2005 pukul 12:00, diculik di kampungnya dan disandera di pos SGI di
Kampung Kuta Bulôh Dua-Meukék, Acheh Selatan, sekarang keenam korban telah
dipindahkan dan disandera di Mapolres Tapak Tuwan, Acheh Selatan, korban
masing-masing:
1. Safri bin Yahya, 25 th, pekerjaan: Karyawan Dinas Kesehatan.
2. Ayatullah bin Jafar, 16 th, status: Pelajar kelas II SMU Sawang.
3. Nasrul Rahman bin Zainun, 18 th, status: Pelajar kelas III SMU
Sawang.
4. Zulfikar bin Syamsudin, 18 th, status: Pelajar kelas III SMU Sawang.
5. Nelly binti Abubakar, 19 th, status: Isteri daripada anggota Béntara
(Polisi) GAM Wilayah Lhôk Tapak Tuwan.
6. Halimah binti Ubit, 32 th, status: Janda.
Keenam korban adalah warga Kampung Triëng Meuduroë Barôh-Sawang, Acheh
Selatan, sampai sekarang tidak diketahui nasib keenam korban tersebut.
Minggu, 26 Juni 2005 pukul 11:20.
Pasukan TNI Yon 08 Marinir pos di Kampung Seuneubôk Atjèh dan pos di
Kampung Cot Muda Itam Kecamatan Peureulak Teungoh, Acheh Timur, melakukan
operasi militer untuk mencari anggota TNA/GAM ke Kampung Balèë
Buya-Peureulak Teungoh, Acheh Timur.
Eksesnya:
Mereka melepaskan tembakan-tembakan secara membabi-buta tanpa sasaran,
lalu mengumpulkan KTP semua warga di kampung tersebut dan disuruh ambil
kembali ke pos TNI Marinir di Kampung Cot Muda Itam (sekitar 10 Kilometer
jaraknya dari Kampung Balèë Buya ke pos TNI Marinir tersebut), warga
menjadi ketakutan dan resah karena mereka dipaksa untuk mengambil kembali
KTPnya ke pos TNI tersebut, warga juga harus mengeluarkan uang sebanyak
Rp. 10.000 (sepuluh ribu rupiah) untuk membayar ongkos RBT (tukang ojek)
pergi/pulang ke/dari pos TNI Marinir tersebut.
Minggu, 26 Juni 2005 pukul 15:00.
Pasukan SGI yang menggunakan 1 unit mobil Kijang, melakukan operasi
ofensif ke Dusun Teumpôk Dalam Kampung Meunasah Aluë-Muara Duwa, Acheh
Utara.
Eksesnya:
Mereka menculik 5 warga sipil (kaum perempuan dan anak-anak) daripada
keluarga anggota TNA, korban masing-masing:
1. Rohamah binti Abdullah, 45 th,
2. Fitriah binti Bahrum, 27 th,
3. Anak 1 Fitriah, 12 th,
4. Anak 2 Fitriah, 5 th,
5. Anak 3 Fitriah, 2 th,
Kelima korban adalah warga Dusun Teumpôk Dalam Kampung Meunasah
Aluë-Muara Duwa, Acheh Utara, keluarga daripada Saiful alias si Pon Putéh
(personil TNA Daèrah I Wilayah Samudera Pasè), kelima korban dinaikkan ke
dalam mobil Kijang dan dibawa bersama pasukan SGI tersebut, sampai
sekarang tidak diketahui nasibnya. Menurut informasi di lapangan bahwa
semua keluarga daripada anggota TNA/GAM yang diculik oleh pasukan TNI-SGI
dan kelompok Milisi BARANTAS di Acheh Utara, sekarang semuanya ditahan di
gedung KNPI Acheh Utara (di samping Makorem 011 Lila Wangsa), gedung KNPI
tersebut dikenal oleh masyarakat sebagai tempat angker karena gedung
tersebut dijadikan sabagai tempat penyiksaan dan pengeksekusian terhadap
warga sipil yang ditangkap dan disandera di gedung tersebut.
End of report.
-------------------------- |
|