PEMERINTAH NEGARA ACHEH (PNA)
TENTARA NEGARA ACHEH (TNA)
PUSAT INFORMASI MILITER

 


Laporan Insiden Pasca Perundingan Helsinki IV (01 Juli 2005).

 Kamis, 16 Juni 2005 pukul 10:30.
Pasukan TNI Yonif 113 pos di Lokop-Serba Jadi, Acheh Timur, melakukan operasi militer untuk mencari anggota TNA/GAM ke Kampung Leles Lokop-Serba Jadi, Acheh Timur.

Eksesnya:
Mereka menangkap dan menganiaya 2 warga sipil hingga kritis, korban masing-masing:
1. Izam bin Husen, 35 th, pekerjaan: Petani.
2. Hasbi bin Nam, 32 th, pekerjaan: Petani.
  Kedua korban adalah warga Kampung Leles Lokop-Serba Jadi, Acheh Timur, keduanya dituduh sabagai simpatisan GAM, ditangkap, dianiaya, dibawa dan disandera serta disiksa saat diinterogasi selama selama 13 hari di pos TNI tersebut, kemudian pada hari Jum’at, 01 Juli 2005, diterima informasi bahwa korban sudah dibebaskan.

Minggu, 26 Juni 2005. (Updated).
Enam warga sipil (termasuk perempuan) yang sebelumnya pada hari Selasa, 21 Juni 2005 pukul 12:00, diculik di kampungnya dan disandera di pos SGI di Kampung Kuta Bulôh Dua-Meukék, Acheh Selatan, sekarang keenam korban telah dipindahkan dan disandera di Mapolres Tapak Tuwan, Acheh Selatan, korban masing-masing:
1. Safri bin Yahya, 25 th, pekerjaan: Karyawan Dinas Kesehatan.
2. Ayatullah bin Jafar, 16 th, status: Pelajar kelas II SMU Sawang.
3. Nasrul Rahman bin Zainun, 18 th, status: Pelajar kelas III SMU Sawang.
4. Zulfikar bin Syamsudin, 18 th, status: Pelajar kelas III SMU Sawang.
5. Nelly binti Abubakar, 19 th, status: Isteri daripada anggota Béntara (Polisi) GAM Wilayah Lhôk Tapak Tuwan.
6. Halimah binti Ubit, 32 th, status: Janda.
  Keenam korban adalah warga Kampung Triëng Meuduroë Barôh-Sawang, Acheh Selatan, keenam korban sampai sekarang masih disandera di Mapolres Tapak Tuwan, Acheh Selatan, setiap hari dan malam keenam korban disiksa di dalam tahanan dengan cara dipukul dan ditendang-tendang, bahkan mereka juga dibakar dengan api rokok. Keenam korban (termasuk pelajar SMU) meminta semua pihak supaya dapat membantu mereka agar dibebaskan, akibat penyanderaan ini, para pelajar SMU tersebut tidak dapat mengikuti Ujian Akhir Nasional (UAN), sehingga mereka tidak dapat melanjutkan pendidikannya ke tingkat universitas, ini berakibat buruk dan dapat menghancurkan masa depan mereka, sampai hari ini (Jum’at, 01 Juli 2005) keenam korban masih disandera di Mapolres Tapak Tuwan, Acheh Selatan.

Rabu, 29 Juni 2005 pukul 08:00.
Pihak TNI MAKODIM 0102/Pidië yang dipimpin langsung oleh KODIM 0102/ Pidië, Letkol. Inf. Abdur Rochim Siregar memaksa semua elemen masyarakat di Wilayah Pidië untuk hadir ke Kantor Bupati Pidië di Jalan Banda Acheh - Medan, Tijuë, Pidië, pihak TNI memaksa semua masyarakat di sana supaya menolak kehadiran tim pemantau awal dari Uni Europa dan ASEAN ke Sigli, Pidië. Pihak TNI telah menyiapkan spanduk dan umbul-umbul yang berisi tulisan penolakan kehadiran Tim Pemantau Perdamaian dari Uni Europa ke Achèh. Masyarakat diancam akan berhadapan dengan maut jika tidak menuruti perintah TNI tersebut, karena takut terhadap ancaman, sehingga masyarakat di sana terpaksa hadir ke Kantor Bupati Pidië tersebut, akibatnya, semua kegiatan masyarakat di Pidië lumpuh total, mulai dari perkotaan sampai ke perkampungan, hingga pukul 14:00 masyarakat masih ditahan oleh pihak TNI di Kantor Bupati Pidië, sementara pihak tim pemantau awal dari Uni Europa dan ASEAN serta CMI tidak mendatangi ke Kantor Bupati Pidië tetapi langsung menuju ke Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Tingkat II Pidië. Sebagian masyarakat yang memaksa diri ingin pulang untuk melakukan aktivitas sehari-harinya dipukul hingga babak belur oleh pasukan TNI, namun identitas para korban belum diketahui.

Rabu, 29 Juni 2005 pukul 19:00. (Updated).
Sebanyak 12 personil TNI Yon 410 menyerang camp TNI Yon 315 (ada 30 personil) yang berada dalam hutan di belakang Meunasah (Surau) di Kampung Aluë Geulumpang-Peusangan, Bireuën (sekitar 100-an meter jaraknya camp sementara TNI Yon 315 dengan Meunasah di kampung tersebut), pasukan TNI Yon 410 salah lirik, mereka mengira camp pasukan TNI Yon 315 tersebut adalah camp pasukan TNA, lalu mereka lansung menyerang camp sementara TNI Yon 315 tersebut, sehingga terjadi tembak-menembak antara kedua kesatuan TNI tersebut. Kemudian TNI Yon 410 terpaksa mengendap dalam hutan itu, karena mereka mengira jumlah personil TNA sangat banyak dan tidak mungkin sanggup mereka hadapi. Pasukan TNI Yon 315 juga menganggap TNI Yon 410 yang menyerang mereka adalah pasukan TNA, setelah suara tembak-menembak reda, pasukan TNI Yon 315 keluar dari dalam hutan dengan membawa mayat temannya yang tewas dan luka-luka ke pos penjagaan malam di kampung setempat, lalu mereka membariskan semua warga yang sedang melakukan jaga dan ronda malam di sana, semuanya dipukul hingga babak belur, karena dituduh tidak melaporkan ada GAM yang masuk ke kampung itu. Kemudian sekitar pukul 04:00 dini hari Kamis, 30 Juni 2005, setelah kedua kesatuan TNI tersebut meminta bantuan pasukan ke lokasi, kedua kesatuan TNI tersebut baru mengetahui bahwa telah menyerang/diserang oleh rekannya sendiri. Menurut informasi masyarakat, 1 personil TNI Yon 315 tewas di tempat dan 1 personil luka-luka kritis dalam insiden tersebut. Seorang warga sipil yang disiksa diantaranya Basri bin Tayeb, 35 th, warga Kampung Aluë Geulumpang-Peusangan, Bireuën, korban diikat pada sebatang pohon, lalu disiksa selama 2 jam oleh pasukan TNI Yon 315, korban kritis, sedang dalam perawatan medis.

Kamis, 30 Juni 2005 pukul 22:00.
Pasukan TNI Kostrad Yon 511 Badak Hitam pos di Kampung Jeungki-Peureulak Timu, Acheh Timur, melakukan operasi militer untuk mencari anggota TNA/GAM ke Dusun Aluë Parang Kampung Dama Tutông-Peureulak Teungoh, Acheh Timur.

Eksesnya:
Mereka menangkap 1 personil TNA, Armansyah bin Yusuf, 25 th, Kampung Matang Gleuëm-Peureulak Teungoh, Acheh Timur (personil TNA Sagoë Rambông Payong Daèrah I Peureulak Wilayah Peureulak), saat itu korban sedang keluar dari kawasan operasi TNI, lalu dihadang dan ditangkap, pihak TNI juga merampas 1 unit HP dan 1 granat Arges milik personil TNA tersebut. Kemudian pada waktu yang sama, 3 warga sipil yang sedang minum kopi dan menonton TV di sebuah warung di kampung setempat juga ditangkap oleh pasukan TNI tersebut, korban masing-masing:
1. Muhammad Dia bin Idris, 27 th, pekerjaan: Jualan.
2. Ahmad bin Aiyub, 18 th, status: Pelajar.
3. Erdi bin Abu Bakar, 17 th, status: Pelajar.
  Ketiga korban adalah warga Dusun Aluë Parang Kampung Dama Tutông-Peureulak Teungoh, Acheh Timur, ketiga korban ditangkap dan dianiaya dengan alasan karena tidak memberitahukan keberadaan anggota TNA kepada pihak TNI yang sedang melakukan operasi militer di sana. Kemudian keempat korban (termasuk 1 personil TNA) dibawa dan ditahan di pos SGI di Kota Peureulak, Acheh Timur, sampai sekarang keempat korban tidak diketahui nasibnya.

Jum’at, 01 Juli 2005 pukul 07:00.
Pasukan TNI Yonif 133 pos di Keudè Asan-Peusangan, Bireuën, mengepung dan menyerang dengan melepaskan tembakan-tembakan ke arah posisi defensif pasukan TNA di Kampung Ulèë Jalan-Peusangan, Bireuën, karena tidak dapat menghindari lagi pasukan TNA terpaksa membalasnya sebagai upaya mempertahankan diri, sehingga terjadi pertempuran. Pasukan TNA semuanya selamat. Menurut informasi di lapangan, 3 personil TNI tewas dan sejumlah lainnya luka-luka. Kemudian pasukan TNI memerintahkan secara paksa kepada seluruh masyarakat petani Cokelat di kawasan itu mulai dari Kampung Ulèë Jalan sampai ke Kampung Tanjông Beuridi Kecamatan Peusangan, Bireuën, supaya menebang semua pohon Cokelat di kebun-kebun masyarakat di sana, akibatnya para petani Cokelat menjadi sangat resah, karena mereka akan kehilangan tanaman Cokelat yang merupakan sebagai lahan/tempat usaha mereka mencari rezeki untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya sehari-hari, hal ini dapat menghancurkan perekonomian masyarakat di sana.

Jum’at, 01 Juli 2005 pukul 08:20.
Pasukan TNI pos di Kampung Bukét Jaya-Kaway XVI, Acheh Barat, melakukan operasi militer untuk mencari anggota TNA/GAM ke Kampung Gunong Reubo-Kuala, Nagan Raya.

Eksesnya:
Mereka menaniaya belasan warga sipil di kampung setempat hingga cidera ringan dan cidera berat, korban masing-masing:
1. M. Din, 58 th,
2. Musliadi, 20 th,
3. Hamdan, 28 th,
4. Abdul Majid, 50 th,
5. Ruslan, 17 th,
6. Efendi, 19 th,
7. Dedi, 20 th,
8. Tawilon, 40 th
9. Edi Yus, 20 th,
10. Taridin, 34 th,
11. Mahyuddin, 20 th,
12. T. Salihin, 53 th,
13. Ibrahim, 30 th,
14. Adnan, 15 th,
15. Adami Tayeb, 30 th,
16. Hasan Buyung, 50 th,
17. Yusuf, 30 th,
18. Daman Nuri, 40 th,
19. T. M. Said, 40 th,
20. Zaini, 19 th,
21. Ahmad Yani, 21 th,
22. Ridwan, 20 th,
23. M. Amin, 18 th,
24. Junaidi, 18 th,
25. Hussaini, 41 th,
26. Saifuddin, 25 th,
27. Sofyan, 60 th,
28. Sudirman, 25 th,
29. Edin Syeh, 30 th,
30. Marzuki, 29 th,
  Semua korban adalah warga Kampung Gunong Reubo-Kuala, Nagan Raya, semua korban disuruh merayap di atas semen lapangan Volley di kampung setempat, sehingga lengan, lutut dan badan para korban mengeluarkan darah, semua korban dipukul dan ditendang-tendang, hingga muka dan badannya memar-memar. Semua korban dianiaya dengan alasan karena para korban tidak bersedia datang ke pos TNI tersebut untuk membangun benteng dari tanah timbun di sekeliling pos TNI tersebut.

Jum’at, 01 Juli 2005 pukul 09:05.
Pasukan TNI pos di Kampung Guhang-Blang Pidië, Acheh Barat Daya, memaksa masyarakat di kampung setempat dan masyarakat Kampung Ladang Neubôk-Blang Pidië, Acheh Barat Daya, untuk membangun benteng dari tanah timbun di sekeliling pos TNI tersebut. Kemudian pasukan TNI menganiaya hingga babak belur M. Sa'id bin Tgk. M. Yahya, 45 th, Keuchik Kampung Ladang Neubôk-Blang Pidië, Acheh Barat Daya, korban dianiaya di depan warganya yang sedang dipaksa untuk membangun benteng di pos TNI tersebut.

Jum’at, 01 Juli 2005. (diterima informasi).
Sejak 2 hari yang lalu sampai hari ini, ratusan personil TNI mengendap di kawasan kaki perbukitan Glé Lam Kunyèt dan Glé Bilui Kecamatan Darul Kamal, Acheh Besar. Akibatnya, para petani menjadi ketakutan dan tidak berani pergi mencari rezeki ke kebunnya.

Jum’at, 01 Juli 2005.
Pasukan TNI mengerahkan warga sipil untuk membersihkan hutan-hutan dan dipaksa untuk mencari anggota/markas TNA/GAM di kawasan hutan-hutan di Kampung Meunasah Dayah, Meunasah Teungoh dan Blang Raleuë Kecamatan Kuta Makmur, Acheh Utara.

Jum’at, 01 Juli 2005 pukul 15:00.
Pasukan TNI mengepung dan menyerang dengan melepaskan tembakan-tembakan ke arah posisi defensif pasukan TNA di Kampung Meunasah Kulam, Beureughang-Kuta Makmur, Acheh Utara, karena tidak dapat menghindari lagi pasukan TNA terpaksa membalasnya sebagai upaya mempertahankan diri, sehingga terjadi pertempuran, akibatnya 2 personil TNA syahid, korban masing-masing:
1. Mahmudi bin Ismail, 20 th, Kampung Meunasah Kulam-Kuta Makmur, Acheh Utara.
2. Nasruddin bin Kasem, 24 th, Kampung Meunasah Blang Talôn-Kuta Makmur, Acheh Utara.
  Keduanya personil TNA Daèrah II Wilayah Samudera Pasè, pasukan TNI juga merampas 2 pucuk senjata M-16 milik pasukan TNA. Menurut informasi masyarakat, 3 personil TNI tewas dalam insiden tersebut.

Jum’at, 01 Juli 2005 pukul 17:00.
Semua keluarga daripada anggota TNA/GAM di Kampung Mureuë-Indrapuri, Acheh Besar, dipaksa untuk melapor ke Makoramil Indrapuri, Acheh Besar. Pihak TNI mengancam akan menjemput ke rumahnya jika para keluarga daripada anggota TNA/GAM tersebut tidak melaporkan diri ke Makoramil tersebut. Pihak TNI Makoramil Indrapuri memaksakan semua keluarga daripada anggota TNA/GAM di Kampung Mureuë untuk melapor ke Makoramil Indrapuri secara rutin setiap hari Jum’at sore sampai batas waktu yang tidak ditentukan.

 End of report

--------------------------