By : Nyak Mutia
Hari ini senin, tgl 1 April. Maisarah bergegas membuka kandang itiknya dan
membiarkan hewan itu keluar beriringan. Bunyinya sangat ribut dan mereka
berdesak-desakan keluar dari kandang sempit itu. Dia telah menyiapkan
umpan itik seperti biasanya. Sambil mebiarkan itik makan dia menyiram
tanaman sayur-sayuran yang begitu subur di hadapan rumahnya.
Dipandangnya bunga kaca piring yang sedang berbunga indah di sepanjang
jalan masuk ke rumahnya. Keindahan itu membuat rumah petak sederhana itu
kelihatan asri.
Dia berpaling ketika dia mendengar suara batuk ayahnya. Orang tua itu
semakin kurus saja dan tampak lebih tua dari umurnya. Dalam hati dia
sangat menyayanginya, dan sekarang semakin sayang. Lebih-lebih lagi
membayangkan bahwa ayahnya yang tua itu juga harus ikut jaga malam secara
bergiliran.
“neuk, ayah jak u blang dilee beuh”, katanya dengan suara parau. “Geet
ayah”, angguk Maisarah dengan hormat. Dibelakang ayahnya dia melihat
mamaknya berjalan dan membawa bekal makan siang. “Beuteugoh dirumoh
beuh”,suara pelan dan lembut perempuan itu memintanya hati-hati dirumah.
Maisarah kemudian larut dalam kegiatan kesehariannya, menjahit sulaman
kasab untuk tirai. Sekarang memang permintaan sehap sebagai tirai yang di
pasang di pelaminan sangat banyak. Cek Rosmah sebagai pengrajin sudah
tidak sanggup lagi memenuhi permintaan pesanan, sehingga dia mengajarkan
anak-anak gadis desa itu untuk membantunya. Mereka suka sekali
melakukannya karena boleh dikerjakan di rumah sambil menjaga rumah dan
mengerjakan pekerjaan rumah, dan juga sambil mereka berkumpul sesama anak
dara bercanda dan berbincang.
Sekarang tgl 5 April. Dua hari lagi anak Tgk. Ilyas akan menikah.
Kesibukan di kampung itu bertambah lagi karena biasanya, orang membuat
pesta pernikahan setelah selesai panen, tetapi karena calon menantu Tgk.
Ilyas bekerja di Jakarta dan tidak punya banyak waktu cuti maka acara
pernikahan di percepat. Kampung segera menjadi sangat semarak.
Orang-orang datang membantu semampunya. Setiap malam anak-anak dara
duduk-duduk sambil memasang pelaminan dan menghias rumah sambil bercanda
sepanjang malam. Pada saat musim turun ke sawah begini, memang selalu
orang datang membantu pada waktu malam, karena siang hari mereka harus ke
sawah. Umbul-umbul juga sudah di pasang di ujung jalan kecil untuk masuk
ke rumah pengantin.
Safiah sang dara baroe kelihatan sangat sedih dan tidak pernah tersenyum.
Bisik-bisikpun beredar, karena semua orang tahu bahwa dara baroe itu punya
hubungan dengan Ismail, yang kini bergabung dengan pasukan GAM. Tentu saja
keluarga Tgk. Ilyas tidak setuju karena mereka menganggap itu suatu
prahara. Menikah dengan GAM tentu akan menjadi duri dalam daging bagi
anggota keluarganya. Hidup tidak tenang dan secara financial sama sekali
tidak bisa diharap. Beda dengan calon suaminya sekarang yang tamatan
perguruan tinggi dan bekerja dis ebuah bank swasta di jakarta. Bayangan
kemewahan segera memenuhi hati kedua orang tua itu yang memang terkenal
sangat materialistis.
Acara pernikahan semakin dekat. Kampung kelihatan semakin semarak.
Biasanya malam hari orang jarang kelaur rumah, tetapi sekarang sampai
pukul 10.00 dan 11.00 malam orang masih hilir mudik dari dan kerumah
kenduri itu.
Malam itu Nyak Aminah sakit gigi, jadi dia bilang dia ingin pulang
kerumahnya saja, karena di rumah kenduri itu sangat ribut sehingga dia
enggak bisa tidur. Akhirnya dia mengambil obor dan pulang sendiri. Memang
jarak rumahnya dengan rumah Tgk. Ilyas tidak terlalu jauh, hanya selang
dua rumah dan malam juga belum larut, baru pukul 10.45.
Dia berjalan sendiri sambil menahan sakit gigi. Suasana sepi membuat bulu
kuduknya berdiri. Tiba-tiba Nyak Aminah dikejutkan oleh sosok hitam dekat
pohon pisang ketika dia melalui pekarangan rumah Abu Kade yang
bersebelahan dengan rumahnya. Dia terkejut setengah mati karena sosok itu
bergerak. Belum hilang rasa terkejutnya dia mendengar orang itu berdesis
dekat mukanya, “diam”, bentaknya sambil menghadang jalan nyak Aminah.
Orang tua itu tiba-tiba jatuh terduduk lemas sambil mulutnya komat-kamit
mengucapkan astaghfirullah. Nyak Aminah memang terkenal latah di
kampungnya. Dalam keadaan panik dia sama sekali enggak bisa mengontrol
sifat latahnya yang justru muncul menjadi-jadi. Dia kemudian melihat
beberapa sosok datang mendekatinya sambil tertawa dan berbisik-bisik
sesamanya. Sekarang dengan jelas dia melihat aparat (sebutan orang kampung
untuk tentara RI) yang sedang mengendap-ngendap di dalam pekarangannya.
“Hei Asep, makan tu nenek-nenek”, suara seorang aparat mengejek temannya.
Suara gaduh Nyak Aminah yang jatuh dan mulutnya yang mengumpat segala
macam akhirnya membuat aparat-aparat itu berjalan menjauh meninggalkan
tempat itu. Baru kemudian Abu Kade dan para tetangga yang lain berani
keluar rumah yang akhirnya mengangkat Nyak Aminah masuk rumah.
Besoknya, 6 April, kampung itu riuh rendah dengan kejadian semalam,
orang-orang bercerita sambil tertawa-tawa tentang kejadian nyak Aminah
semalam, tentu saja dengan bumbu-bumbu sehingga cerita itu semakin lama
semakin menarik. Di balik tawa canda itu, para orang tua kampung merasa
seperti ada suatu kejadian yang melingkupi pernikahan yang dipaksakan ini.
Kenapa tentara itu mengepung rumah Tgk Ilyas, apakah mereka sedang
mengincar Ismail yang diperkirakan akan pulang karena pernikahan itu?
Suasana tegang membayang di wajah orang-orang tua sementara para pemuda
sibuk mempersiapkan hari pernikahan dan tidak menyadari akan adanya
keganjilan itu.
Hari pernikahanpun tiba. Para tamu datang dan semua bergembira. Linto
baroe kelihatan sangat bahagia dan tersenyum terus. Dia bangga sekali bisa
mempersunting bunga desa itu dan juga kekasih Ismail yang menjadi rivalnya
dari dulu, sejak mereka satu sekolah di SD sampai SMA di kecamatan.
Tidak demikian halnya dengan dara baroe. Dia hanya menagis dan terduduk
sambil merengut di atas pelaminan Aceh yang indah dan megah itu. Wajah
cantiknya tertutup dengan kepedihan hatinya yang tidak bisa
disembunyikannya.
Tiba-tiba para undangan dikejutkan dengan suara tembakan beruntun dari
arah pos militer yang tidak jauh dari balai desa. Suara itu jelas
terdengar karena hanya 500 m dari rumah kenduri itu. Suara itu semakin
dekat dan mereka mendengar suara trail meraung-raung mendekati tempat
kenduri. Kepanikan menyelimuti para undangan yang segera tiarap di tanah
dan ada yang mencari perlindungan di tempat-tempat yang dianggap aman.
Orang-orang di dapur, yang sedang menjaga belangong sie (belanga yang
memasak daging) pun tak kalah panik. Sangking paniknya Abu Berahim, kepala
masak memasukkan gulai kambing ke dalam wadah berisi air minum yang telah
masak.
Suara tembakan sekarang diarahkan ke dalam pekarangan rumah Tgk Ilyas.
Mereka memang tadi melihat ada sebuah honda yang melintas dengan kencang
melewati rumah kenduri itu dan itu adalah honda bang Abdullah tukang ikan
yang selalu menjual ikan di kampung itu. Aparat-aparat itu kemudian
datang marah-marah sambil mengatakan bahwa honda tadi masuk ke pekarangan
rumah kenduri. Tentu saja para tamu bingung karena mereka melihat bahwa
honda itu berjalan lurus menuju ke arah Gampong Blang.
Para tentara semakin marah dan mulai membanting-banting peralatan makan
dan membuang makanan yang diletakkan di atas meja. Mereka menuduh orang
kampung menyembunyikan GAM yang katanya tadi memancing tembakan ke arah
pos mereka.
Para tamu nampak sangat ketakutan. Orang-orang menjadi semakin panik
ketika aparat kemudian membariskan semua laki-laki dan mulai memeriksa KTP
mereka. Suara gaduh menjadi semakin menjadi-jadi ketika para laki-laki itu
kemudian di pukul dan ditendang-tendang tanpa ampun.
Pukul 3.00 sore suasana baru reda, ketika para aparat itu meninggalkan
rumah kenduri. Suasana di tempat itu kacau balau penuh dengan pecahan
piring, tumpahan kuah dan makanan lain yang campur baur ditambah lagi
dengan isak tangis perempuan dan anak-anak yang ketakutan setelah kejadian
tadi.
Para lelaki yang sudah lemas dan babak belur, kemudian mulai mengobati
luka mereka. Tidak lama kemudian mereka sudah terlihat tertawa-tawa
setelah menyadari segala kegaduhan tadi. Orang-orang yang haus kemudian
menyadari bahwa air minum telah bercampur dengan kuah sie kameeng sehingga
tidak bisa diminum lagi. Ramli yang baru saja sembuh dari patah
kaki,sekarang sudah patah lagi akibat di injak-injak oleh Pai dan sekarang
dia di boyong lagi ke tukang urut dan dia menjerit-jerit ketakutan
membayangkan akan di urut lagi untuk kedua kalinya, karena masih terbayang
betapa sakitnya dulu dia waktu di urut.
Teungku Ilyas terduduk lemas sambil menatap kosong. Dia di kelilingi oleh
orang-orang tuha gampoung yang sedang berbincang mengenai kejadian itu.
Para tamu sebagiannya sudah pulang karena setelah ada kejadian orang-orang
tidak boleh berkumpul-kumpul karena PAI bisa kembali sewaktu-waktu dan
membuat keributan lagi.
Pak Keuchik terduduk sambil mengelus dadanya yang terasa sakit di tendang
sepatu lars tentara.
“Kon lee sigo dua goe di awak bui nyan di jak peukaru geutanyo watee
khanduri lagee nyoe. Ta undang salah, han ta undang pih salah. Pakriban ta
undang di awaknyan pih ka saboh moto gerubak soe eek peutepat nyan. Oh
lheuhnyan kon keu masalah khanduri, tapi menyou na awaknyan ka pasti
kacoe buet geutanyoe” Suara Pak Keuchiek yang menggerutu memecah kebekuan
diantara mereka. Mereka mengangguk mengiyakan bahwa memang kalau ada
kenduri dalam kampung selalu saja aparat di Pos dekat Meunasah Tuha itu
membuat keributan. Macam saja alasan mereka sehingga orang kampung tidak
pernah merasa tenang berkumpul.
Malam itu suasana kampung terasa sangat sepi. Orang-orang mempercepat
berada di dalam rumah karena kejadian siang tadi. Hanya beberapa orang
saja yang berada di rumah teungku Ilyas sambil membersihkan bekas pesta
siang tadi.
Tiba-tiba rumah itu dikejutkan dengan hilangnya dara baroe. Sang suami
menanti di dalam kamar tetapi istrinya tidak pernah muncul-muncul, ketika
sudah tidak sanggup menunggu lagi, pukul sepuluh dia keluar dan menanyakan
mamak mertua kemana istrinya. Mamak dara baroe terkejut karena menyangka
anaknya sedang di kamar bersama suaminya. Mereka menyadari bahwa dara
baroenya telah hilang waktu maghrib tadi. Ketika Abu Berahim mengatakan
bahwa dia memang melihat ada seorang perempuan muda berjalan
tergopoh-gopoh melintasi belakang rumahnya saat malam menjelang. Dia heran
karena melihat perempuan itu seperti Safiah, tetapi dia tidak percaya pada
apa yang dia lihat. Enggak mungkin pikirnya dara baroe keluar
maghrib-maghrib begini. Lagi pula keadaan gelap jadi dia tidak begitu
perhatian.
Tgk Ilyas dan istrinya terduduk lemas sambil menatap rumah mereka yang
masih berantakan setelah acara pesta tadi dan juga setelah pesta dengan
PAI. Pelaminan merah masih memenuhi seluruh ruangan rumah itu. Mamak
safiah menangis membayangkan bahwa anaknya telah benar-benar pergi
menyusul kekasihnya yang ditentang habis-habisan oleh mereka berdua.
Berita mengenai hilangnya dara baroe menyebar bagai wabahke seluruh
kecamatan itu. Semua orang tertawa mendengar berita itu membayangkan
betapa orang tua Safiah yang materialistis itu harus menerima kenyataan
bahwa anaknya benar-benar pergi dan memilih bergabung dengan kekasihnya,
walau Ismail hanya punya cinta. Cinta mereka begitu kuat sehingga
mengalahkan bayangan glamournya Jakarta. Cinta memang kadangkala tidak
bisa dipahami. Tentu saja bagi yang sedang dimabuk cinta, cinta itu begitu
suci mengalahkan segala batu yang menghambat jalannya….
Hari ini tgl 15 April. Pagi-pagi sekali Maisyarah datang ke rumah cek
Rosmah
untuk meyerahkan kasab yang telah selesai dia buat. Cek Rosmah akan ke
Banda Aceh, jadi semua pesanan sudah harus selesai hari itu. Di tengah
jalan dia melihat rombongan aparat yang baru pulang dari operasi. Mereka
berjalan lunglai dengan baju yang basah dan bercampur lumpur.
Maisarah jadi grogi, antara berjalan atau mundur. Dia merasa lengkahnya
berat. Pagi itu memang masih sepi dan jalan yang dia lalui agak sepi
karena letak rumah yang berjauhan di tempat itu.
Dia berusaha
menenangkan diri dan berjalan tanpa menglihat ke sekeliling. Ketika dia
semakin dekat dengan rombongan aparat itu, dia bisa merasakan pandangan
mereka ke arahnya. Dia ketakutan sekali dan bayangan burukpun segera
memenuhi benaknya. “Mau kemana dek”’ sapa sebuah suara mengejutkannya.
Gelagapan dia menjawab. Kerumah kawan bang,”. Kemudian dia mendengar suara
ketawa-ketawa tentara itu sambil bercanda dengan temannya. Alhamdulillah
bisiknya dalam hati. Dia mempercepat langkahnya ke rumah cek Rosmah.
Tgl 21 April. Ini adalah hari Kartini. Di seluruh Indonesia hari Kartini
dirayakan besar-besaran. Anak-anak sekolah dengan pakaian tradisional
berpawai dan melakukan upacara disekolah. Kecamatan mereka juga tidak
ketinggalan turut merayakan hari Kartini. Beberapa hari sebelumnya telah
diumumkan bahwa masyarakat desa diminta beramai-ramai keluar ke lapangan
kecamatan untuk meramaikan acara peringatan hari kartini. Anak-anak
perempuan kecil mengenakan kebaya dan bersanggul berpawai keliling
lapangan dan pasar dan kembali ke sekolah. Seperti biasa masyarakat tidak
paham apa makna hari Kartini karena bagi mereka tidak ada pengaruhnya
sama sekali. Tetapi siapa yang bisa menolak anjuran atau lebih tepatnya
pemaksaan aparat?
Tgl 25 April, kampung itu di kejutkan oleh ditemukannya dua mayat tak
dikenal di dekat Mesjid kecamatan. Mayat berlumur darah itu sudah tidak
berbentuk akibat siksaan berat disekujur tubuhnya. Orang kampung kemudian
menguruskan fardhu kifayah seperti biasa dan menguburkan kedua mayat tanpa
identitas itu.
Tgl 27 april. Hari itu Maisarah berjanji untuk bertemu dengan Azizah,
temannya yang sekarang menjadi bidan desa dan bekerja di Puskesmas. Dia
tiba di Puskesmas pukul 1.00 siang karena saat itu waktu istirahat. Azizah
tambah cantik saja dalam balutan pakaian putih seragam rumah sakit.
Kemudian mereka duduk di dalam ruang tunggu dan bercakap tentang masa
lalu. Saat itu mereka melihat Raudah melewati tempat itu sambil menunduk.
Maisarah heran mengapa Raudah berlalu begitu saja tanpa menghiraukan
mereka yang sedang duduk-duduk dalam ruangan itu. Dia bangun hendak
memanggil Raudah, tetapi tangannya di tarik Azizah. Jangan pintanya sambil
menarik maisarah sampai terduduk kemabli di kursinya. Maisarah meantap
heran ke arah Azizah, kenapa Azizah melarangnya memanggil Raudah. Bukankah
mereka itu teman lama dan sudah beberapa bulan ini Maisarah tidak pernah
bertemu dengannya, tentu dia rindu dengan teman baiknya semasa di MAN
dulu.
Azizah kemudian bercerita bahwa Raudah datang untuk minta pil menggugurkan
kandungan. Rupanya dia hamil dan laki-laki itu yang menjadi pacarnya
selama ini adalah tentera BKO yang menolak bertanggungjawab karena dia
beralasan itu adalah hasil kerja ramai-ramai dan bukan dia sendiri. Tentu
saja itu tidak benar karena menurut Raudah, dia hanya berhubungan dengan
Toni itu saja. Sekarang dia telah ditarik ke induk pasukannya dan Raudah
bingung dengan perutnya yang semakin membesar. Puskesmas menolak untuk
menggugurkan kandungan (aborsi) dia karena itu perbuatan yang terlarang
dalam agama dan juga melanggar kode etik kedokteran. Entah bagaimana nasib
Raudah… mereka hanya merenung berdua membayangkan penderitaan Raudah yang
telah salah memilih langkah. Pantas tadi Maisyarah melihat betapa
kesedihan dan rasa malu membayang pada muka Raudah.
April hampir berlalu, Maisarah menatap bulir-bulir padi yang ditiup angin.
Siang itu dia terduduk di gubuk kecil yang dibuat di tengah sawah untuk
tempat berteduh. Hari itu dia datang mengantar makan siang untuk kedua
orang tuanya yang bekerja di sawah. Selepas sembahyang dhuhur, dia
membantu mereka membersihkan rumput di sela-sela tanaman padi. Wajahnya
yang putih memerah dbakar matahari. Dia memandang kedua orang tuanya yang
semakin renta dan bekerja keras di sawah. Tahun-tahun terakhir ini memang
tidak ada kebahagian bagi orang-orang kampungnya. Mereka bekerja semakin
keras tetapi kehidupan menjadi semakin sulit. Penghidupan hanya
semata-mata diandalkan dari sawah karena ke ladang mereka sudah tidak
bisa lagi. Dahulu untuk menambah penghasilan mereka juga ke kebun atau
ladang dimana mereka punya tanaman yang lain seperti kelapa, durian atau
menanam tanaman semusim seperti kacang, timun sayur-sayuran dan
tanaman-tanaman yang lain. Sejak konflik bersenjata di Aceh semakin
memanas maka orang-orang kampung sudah tidak bisa lagi ke kebun. Mereka
akan langsung dianggap sebagai informan GAM dan mengantar logistik untuk
keperluan anggota GAM oleh aparat. Beberapa diantara mereka tidak pernah
kembali lagi dan sebagiannya ditemukan sudah menajdi mayat.
Hari ini 30 April. Maisarah diminta datang ke rumah Kak nuripah.
Dia bergegas
datang. Kalau kak Nuripah yang panggil itu artinya ada berita dari atas.
Maisarah maklum apa artinya itu. Dia mendaki satu demi satu anak tangga
rumah kak nuripah dan mengetuk pintu kayu itu. “Assalamualaikum”, sapanya
lembut. Dari balik pintu dia mendengar jawaban “Waalaikumsalam”.
Dia hapal suara itu… sambil tersipu dia masuk ke dalam. Di lihatnya Rizal
sedang duduk di kelilingi oleh pasukannya. Dia mencuri-curi pandang ke
arah laki-laki itu yang semakin lama nampak semakin kekar saja. “Pakriban
haba Mai”, suara itu mengalir lembut ke dalam telinganya. “Alhamdulilah
jroh cut bang”, jawabnya sambil menatap ke bawah, Dia merasa hari ini
bahagia sekali. Hatinya berbunga-bunga dan dag dig dug. Dia senang tetapi
juga sekaligus takut kalau-kalau secara tiba-tiba PAI datang dan
bagaimana jadinya mereka.
Pertemuan itu singkat saja. Mereka bergegas pergi setalah makan pisang geu
thoek (pisang yang dihancurkan dengan cara ditumbuk) yang dicampur susu
kental manis kesukaan Rizal. Tidak lama kemudian PAI datang satu peleton
menyisir kampung mereka. Maisarah pucat pasi dan berusaha bersembunyi di
dalam rumahnya. Seperti biasa orang laki-laki dan anak-anak laki-laki yang
sudah baligh segera lari menyelamatkan diri. Yang tidak sempat lari
menjadi sarang kemarahan PAI yang melampiaskan kebrutalan mereka ke pada
orang kampung karena mereka tidak bisa menemukan pasukan TNA. Suatu
pemandangan yang sudah sangat lazim bagi masyarakat kampung. Sudah menjadi
makanan sehari-hari.
Dan kehidupan pun berdenyut terus, menambah semakin kental rasa ke Acehan
di dalam setiap dada orang-orang Aceh, yang membuat mereka kuat bertahan
hidup dalam daerah konflik. Itulah yang membuat semakin sulit mematahkan
perlawanan mereka terhadap hak-hak mereka yang sekarang sedang di
injak-injak oleh pemerintah Indonesia.
Hari itu April berakhir. May akan segera menjelang. Maisarah duduk
termangu dibibir kolam di belakang rumahnya yang berbatasan dengan sawah
sejauh mata memandang. Angin semilir menyapu pipinya yang bersih. Dia
menatap bunga teratai yang tumbuh dengan suburnya dalam kolam itu.
Ikan-ikan kecil berenang menari di balik daun-daun teratai memberikan
pemandangan yang begitu syahdu, begitu damai. Dia ingat dahulu Rizal
sering memetik bunga teratai yang banyak sekali tumbuh dalam kolam kecil
dekat meunasah Tuha, yang sekarang sudah dijadikan pos Aparat. Pagi-pagi
ketika Maisyarah turun tangga untuk mengambil wudhuk, maka dia akan
memungut teratai itu dan menyelipkan di rambutnya yang panjang.
Tadi pagi dia melihat ada teratai segar yang tergeletak dekat tangga. Dia
terkejut kemudian tersenyum membayangkan kekasihnya semalam datang dan
menaruh teratai itu sebagai tanda bahwa dia tadi malam pulang. Hatinya
berdebar… ada kerinduan menyeruak setelah sekian lama dia tidak bertemu.
Ketakutan dan rasa senang bercampur baur dalam hatinya membayangkan
pahlawannya yang mempertaruhkan nyawa hanya sekedar ingin membuktikan rasa
cintanya. Cinta itulah yang juga membuatnya memilih menjadi seorang martir
bagi Aceh tanah yang begitu dicintainya. Dialah pahlawan sejati bagi
Maisyarah …. Yang mempersembahkan cinta yang suci, bukan cinta yang
berselimut nafsu yang berakhir dengan bencana. Dia menanti dengan sabar
pahlawannya yang sedang berjuang untuk kemerdekaan Aceh yang hakiki.
Merdehka,
Kepada
semua prajurit TNA yang saat ini sedang berjuang membebaskan tanah pusaka
dari kekejaman imperialis Indonesia.
Selamat
berjuang, hudep sare mate beu sajan sikrak gafan saboh kerenda
17 April 2003 |