Indahnya Sebuah Penantian

by : Keumala Mutia

Bangkok adalah kota yang indah.Masyarakatnya ramah,patuh dan menyenangkan.Laili menikmati hari-harinya disana. Diantara denyut kehidupan yang begitu asing baginya.Orang-orang yang berbicara di dalam bahasa yang tidak  dipahaminya.  Namun Masyarakat  Bangkok yang santun dan menerimanya,apa adanya membuat dia tenang.Apalagi dia tinggal bersama masyarakat MuslimPattani. Bersama mereka dia sama sekali tidak merasa asing. Setiap waktu shalat dia selalu mendengar suara azan, sayup-sayup menggema dari puncak menara-menara mesjid di sepanjang sungai yang mereka sebut sungai kepedihan. Pada zaman dahulu, sungai itu digali oleh orang-orang Muslim Thai dengan penuh penderitaan dan pengorbanan.

Hari-hari bergulir menyisakan banyak kenangan. Laili berenang dengan dunianya yang terus berputar. Waktu demi waktu membawanya terus meninggalkan helaian almanak yang berguguran dilantai. Dia berjuang membebaskan dirinya dari belenggu penderitaan. Disetiap desah nafasnya, disetiap keperihan yang mendera hatinya dia dapat rasakan kasih saying Allah seakan tiada pernah putus mengalir kepadanya.Setiap tetes airmata yang meleleh dipipinya menjadi obat bagi kerinduannya pada kampung halamannya, Acheh, yang kini berkuah darah.

Bau dupa dan melati serta kembang setaman mengiringi langkahnya sepanjang jalan menuju kemesjid. Dia melewati jembatan yang melintasi sungai kepedihan. Gadis-gadis Thailand yang ayu berjalan hilir mudik dengan bajunya yang seksi. Kulit putih mulus mereka menyembul dari pakaian mini yang mereka kenakan. Wajah-wajah putih mulus dengan rona merah dikedua pipi mereka menambah kecantikan gadis Bangkok. Dihalaman masjid Lalili melihat pemandangan lain.Suasana kental masyarakat Melayu ,mengingatkannya kepada kampung halamannya. Anak-anak berlari bekerjaran di halaman masjid.Mereka saling memanggil dengan nama-nama Islam yang akrab ditelinganya.  Anak-anak muda yang laki-laki mengenakan sarung berjalan beriringan memasuki halaman mesjid.Mereka kelihatan tampan dengan wajah berseri bekas wudhlu, gembira ria bersiap menunaikan ibadah shalat. Anak-anak perempuan dengan jilbab yang menutupi wajah ayu mereka terlihat santun menanti saat shalat berjemaah. Sejenak,Laili lupa bahwa dia berada di negera Siam, negeri asing yang begitu jauh dari rumahnya. Suasana itu membuatnya merenung,membayangkan sesuatu yang hilang dari hatinya… serasa menjauh dan semakin mengecil…kampung halamannya yang entah kapan dapat dilihatnya lagi…Pemandangan dan suasana yang Islami itu membuat hatinya terhibur sedikit. Dia menunaikan shalat siang itu dengan khusyu’. Selesai shalat dia berdo’a. Bulir-bulir airmata kembali menetes, mengalir di kedua pipinya yang putih kuning. Laili tak kuasa menahan kepedihannya, mengingat Achehnya yang kini sedang pedih merintih. Genangan darah memerah membasahi buminya.

Malam ini, setelah selesai workshop international itu, mereka diundang makan malam. Acaranya, dinner on the boat, menyusuri Chao Praya River yang membelah kota Bangkok. Kami boarding sekitar pukul 8.00 malam. Semua kelihatan sangat gembira. Boat besar itu berlayar perlahan menyajikan musik-musik Thai yang lembut. Sementara di dermaga dan dihalaman hotel-hotel yang dilewati disajikan berbagai tarian tradisional dan musik Thai yang sangat menarik. Makan malam itu menjadi sangat istimewa dengan hidangan laut yang lezat.  Semua orang bergembira. Kami melewati candi-candi Budha yang gemerlap keemasan disinari cahaya lampu. Pasangan-pasangan yang sedang berbahagia saling berpelukan menikmati suasana yang disuguhkan dengan begitu romantisnya. Laili tersenyum. Kadang dia juga tertawa bersama teman-teman dari berbagai Negara yang sedang menikmati indahnya malam itu. Sepenuhnya dia tidak begitu menikmati suasana itu. Orang-orang di nanggroe sedang sangat menderita. Nanggroenya sedang diamuk perang. Gemuruh di dalam hatinya tiada nampak dipermukaan. Senyum manis senantiasa mengembang dibibirnya, menenggelamkan semua kepedihan yang dirasakan perempuan Acheh itu. Wajah muda itu menyimpan luka. Sejuta penderitaan. Ketika dia menatap kebahagiaan pasangan-pasangan yang sedang memadu kasih, ingatannya melayang pada seseorang… kekasihnya. Hatinya bergetar sesaat… dia merasakan cinta yang mengalir di dalam darahnya. Tetapi mereka sangat jauh. Jauh sekali… tak terjangkau bagi sayapnya yang lemah. Namun keyakinannya yang kuat akan cinta mereka membuat dia tenang. Biarlah kusimpan dahulu cinta ini gumammnya. Suatu saat dia akan datang…

Hari terus bergulir. Satu demi satu helai almanak didinding berjatuhan. Bulan berganti bulan. Laili mengayunkan langkahnya. Menuju pembebasan Acheh  dengan genangan darah para syuhada. Kemerdekaan kan kujemput.. kebahagiaan kan kujelang.

July 12, 2003