Panggilan Sutji

 

By : Nyak  Mutia
 

 Ketika tabir senja merayap masuk lewati kaca jendela, Afifah termangu sendiri ..Masih dirasakannya panas air mata yang mengalir di pipinya … Ketika dia mengantar Cut Bang di bibir hutan. Dia pergi bersama pasukannya. Mereka terlihat gagah dengan senjata dibahunya. Afifah memandang mereka sampai hilang ditelan hutan kecil yang membatasi kampung mereka dengan hutan besar. Walaupun dia berusaha untuk memahami mengapa Cut Bang bergabung dengan angkatan perang itu namun kepergiannya selalu membuat dia merasa hampa.

 Sebagai gadis desa yang hanya menamatkan SLTP, dia tidak tahu banyak apa artinya perjuangan itu. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya di dayah selepas SLTP. Perkenalannya dengan Hamdani membuat hari-harinya menjadi lebih cerah. Dia menjadi lebih riang dan bahagia. Setiap sore dia menjadi lebih bergairah pergi ke sungai dan mandi kemudian berdiri di dekat jendela menunggu Hamdani lewat dan duduk-duduk di kedai depan rumahnya, berdiskusi dengan orang-orang tuha gampong yang menghabiskan senja menjelang maghrib di sana. Dari Ayahnya, dia sekarang belajar sedikit mengenai sejarah Acheh dan selalu mengikuti perkembangan berita Acheh dari koran dan televisi.

Sejak PAI sering memasuki kampung mereka akhir-akhir ini Afifah menjadi kehilangan Hamdani, segera anak-anak lelaki yang sudah baligh menjauh pergi mencari keselamatan. Dia sudah terlalu sering melihat mereka dikasari dan ada yang di bunuh.

Ah … kenangan itu menyeruak lagi. Afifah secepatnya menyelesaikan mandi dan kini tanpa gairah dia mendaki bukit kecil di sungai itu dan bergegas kembali ke rumahnya. “Bagah bacut hai dara nyo karap malam”, terdengar suara Nyak Rahmah memanggil gadis-gadis yang masih bercengkerama di sungai untuk secepatnya pulang. Malam hari bisa dipastikan kampung mereka menjadi begitu sunyi karena  tak ada yang berani berkeliaran atau besok pagi akan menjadi mayat atau hilang tak tentu rimbanya. Afifah melangkah gontai menuju rumahnya, bayangan Cut Bang kembali hadir walaupun dia berusaha mengusirnya. Ketika dilewatinya pohon Cempaka di dekat rumah Imeum Rajab dia ingat suatu sore  dua bulan yang lalu Cut Bang memanggilnya. Dia tentu saja sangat malu dan berdiri agak jauh dari Cut Bang. Masih diingatnya saat itu ketika dia baru pulang dari pernikahan Rohani teman dekatnya semasa di dayah dulu. Rohani menikah dengan Fuadi teman baik Cut Bang dari kecil dan sekarang bekerja sebagai guru di SMP kecamatan.

Dek Afifah, Cut Bang sekarang bergabung dengan Tentara Negara Acheh. Tentu adek paham  apa artinya itu, saya sudah menjadi tentara  Acheh yang berjuang demi kemerdekaan nanggroe geutanyoe, Acheh yang sangat saya cintai. Itu cinta saya yang utama. Yang kedua saya juga sangat mencintai adek tetapi adek harus faham kalau memang rela memilih Cut Bang, itu artinya harus rela menderita. Perjuangan itu adalah pengorbanan. Kita rela berkorban jiwa dan raga untuk mencapai tujuan yang hakiki yang akan kita tempuh dengan susah payah, penuh ujian dan cobaan yaitu memerdekakan Acheh yang kini sedang berkuah darah karena dizalimi dan di jajah oleh Indonesia. Apa adek bersedia?  Sejurus Afifah terdiam. Dia tidak tahu apa yang harus dijawabnya, tetapi cintanya pada Hamdani mengalahkan segalanya. Dia hanya mengangguk tanpa sanggup menatap ke arah Cut Bang.

Hari berlalu, rindu Afifah ibarat embun yang jatuh menyiram bumi di pagi hari. Tiada seorangpun tahu apa yang berkecamuk di dadanya. Dia berusaha menyembunyikan perasaannya. Setiap maghrib dibacanya Al Qur’an dan dia mendo’akan Cut Bang yang kini berjuang entah di mana.  Setiap dia bertemu dengan pasukan TNA dia pasti bertanya kabar Hamdani dan mereka katakan dia baik-baik saja, tetapi sekarang belum bisa turun karena sedang banyak tugas di base camp. Ingin sekali dia juga turut bersama kekasihnya,  berada disisinya setiap saat dan memanggul senjata berjuang bersamanya. Suatu sore dia bertemu Hamdan teman Hamdani satu pasukan. Hamdan menitip surat dari Cut Bang, tak sabar dibukanya surat itu dan dia membaca kalimat demi kalimat. Assalamualaikum  Cut Adek, Alhamdulillah Cut Bang dalam keadaan sehat. Insya Allah sehabis hari raya ini Cut Bang dapat cuti, jadi bisa kembali ke kampung kita. Cut Bang sudah bicarakan dengan orang tua dan komandan dan mereka menyetujui kita untuk menikah. Salam rindu dan merdeka. Pendek saja surat itu. Tetapi tak terkira betapa bahagianya Afifah. Dia tidak sabar menunggu pahlawannya pulang, menunggu hari pernikahannya. Orang tua Cut Bang kemudian datang melamar. Sudah pasti tiada pesta meriah menikah dengan seorang TNA. Apalagi sekarang Cut Bang sudah bergelar Panglima Muda, tentu sudah menjadi incaran paling diinginkan oleh PAI. Semakin hari dia semakin bahagia,  tidak sabar menunggu waktu berlalu menuju  hari pernikahannya. Terbayang kembali betapa gagahnya Cut Bang dengan pakaian lorengnya menyandang AK 47. Pandangannya tajam tetapi tutur katanya lembut. Mereka pasti akan bahagia nantinya walaupun dia menyadari betapa mereka harus hidup berpindah-pindah menghindari kejaran PAI, kadangkala  di hutan-hutan yang lebat mengikuti sang suami yang berjuang sebagaimana dialami Halimah temannya yang juga menikah dengan komandan TNA. Segala kegelisahan dan ketakutan sirna manakala dia mempersiapkan segala hal bagi pernikahannya nanti. Baju pengantin biru muda sudah dipesannya pada mak Midah penjahit paling rapi dikampungnya yang juga sepupu uminya. Semua serba rahasia karena mereka takut diketahui cuak yang bisa membocorkan rahasia ini kepada PAI. Tak taulah bagaimana jadinya kalau PAI tahu yang dia akan menikah dengan Panglima Muda Hamdani.

Afifah memang bukan gadis yang pandai berdandan, dia hanyalah gadis desa yang akrab dengan kesederhanaan dan keluguan. Tetapi instingnya sebagai perempuan mengajarkannya untuk belajar bagaimana untuk menjadi cantik.  Sama dengan perempuan yang lain yang akan segera menikah, pasti akan mempersiapkan segala hal yang dahulunya tidakpun terfikir. Dia mulai mencari tahu tentang kosmetika dan bagaimana untuk merawat tubuhnya. Teman dekatnya Rohani yang sudah menikah menganjurkannya untuk membeli lulur yang bisa dibalurkan ke seluruh tubuh untuk membuat kulit menjadi halus dan wangi. Walaupun malu tetapi Afifah berusaha untuk melakukan segala saran sahabatnya itu … semua demi Cut Bang yang sudah begitu dirindukannya. Setiap saat dia memandang baju pengantinnya dan selendang cream yang telah dipersiapkannya dengan baik. Begitu pula selop yang berhak tinggi yang dipesannya dari sepupunya di Banda Aceh. Aku akan menjadi pengantin yang sangat cantik, gumamnya dalam hati. Dia tersenyum membayangkan duduk di hadapan penghulu bersama Cut Bang yang akan menjadi teman hidupnya selamanya. Ramadhan akan segera berakhir dan saat itu akan segera tiba ….

Malam itu suasana tentram desa berganti riuh. Dikejauhan terdengar suara salak senjata tiada berhenti henti. Tampaknya ada kontak senjata. Bagi masyarakat desa hal ini sudah biasa, mereka berusaha mencari tempat yang agak terlindungi dari peluru nyasar, kalau kontak tersebut cukup dekat dengan pemukiman. Kalau jauh mereka tetap dengan aktivitas kesehariannya. Tidak demikian dengan Afifah, Dia meringkuk ketakutan saat mendengar suara senjata. Sejak dia akrab dengan Cut Bang dia selalu ketakutan kalau ada suara senjata, segala hal-hal buruk menggayuti pikirannya. Seingatnya Cut Bang akan segera pulang karena ini sudah penghujung puasa. Seperti janjinya yang akan menemuinya di hadapan penghulu. Dia berharap Cut Bang tidak ada dalam pasukan tersebut dan kalaupun ada semoga dia selamat. Pelan-pelan diucapkannya do’a selamat sementara bulir-bulir airmata mengalir di pipinya yang putih. Dua jam kemudian suara senjata berhenti, Tidak berapa lama kemudian  dia mendengar kegaduhan di luar sana. “PAI ka di  weeh,” dia mendengar suara laki-laki yang mengabarkan bahwa tentara Indonesia sudah pergi meninggalkan lokasi kontak senjata. Dia mendengar ada orang yang berjalan dengan cepat-cepat sambil berbisik-bisik sesama mereka. Semua menuju ke arah meunasah yang terletak tidak berapa jauh dari rumahnya. Hari sudah terang, sehabis shalat subuh Afifah turun ingin tahu apa yang terjadi. Dia melihat  beberapa orang tua kampung memandangnya dengan sedih, ada apa gerangan pikirnya. Hatinya mulai diliputi kecemasan, dia mempercepat langkahnya ke meunasah dimana para korban dibaringkan. Di lihatnya ada beberapa korban yang sudah terbaring kaku dengan darah yang masih mengalir dari luka-luka mereka. Kebanyakannya adalah orang desanya yang mungkin terkena peluru nyasar. Afifah  terpaku ketika dia melihat kepada salah seorang korban. Dilihatnya Cut Bang terkulai di samping Hamdan sahabatnya yang setia. Mereka tersenyum dalam balutan baju loreng yang bersimbah darah. Afifah terhenyak, pucat, dia tidak percaya pada apa yang dilihatnya. Pelan-pelan dia melangkah dan mendekati tubuh Cut Bang. Dipegangnya dadanya yang masih mengalirkan darah hangat. Dia ingin menangis saat itu tetapi air matanya tidak bisa keluar. Direngkuhnya senjata Cut Bang yang masih di peluknya dengan erat, Aku akan melanjutkan perjuanganmu sayang, bisiknya lembut di telinga Cut Bang, kemudian dia mencium kening Cut Bang dengan perlahan. Orang-orang kampung yang melihat kejadian tersebut tidak kuasa menahan air mata mereka. Ada gejolak yang tak bisa ditahannya ketika dia menatap kekasihnya terbujur kaku, namun senyum itu menguatkan hatinya, dia melihat keteguhan hati Cut Bang yang begitu mencintai tanah airnya, Acheh yang dibelanya sampai tetes darah yang penghabisan. Afifah adalah perempuan Acheh, dan seperti perempuan Acheh lainnya yang tidak menangisi kekasihnya yang  syahid di medan perang. Mereka tahu ada bidadari yang akan mengurusnya setalah syahid dan bayangan syurga yang menanti kekasihnya.

Saat pucuk-pucuk bungong jeumpa bergoyang ditiup angin, Afifah duduk termangu di markas kecil di bibir lembah yang berbatasan dengan sungai kecil yang airnya sangat jernih. Dia  bersama-sama pasukan Cut Nyak Dhien yang  sedang beristirahat senja itu. Ingatannya membayang kembali kepada Cut Bang yang dinantinya bersanding selepas hari raya. Dia masih sulit menerima laki-laki lain dalam hidupnya. Saat ini yang ingin dia lakukan adalah berjuang dahulu meneruskan perjuangan Cut Bang yang telah lebih dahulu Syahid.

 Januari 1st ,2003

 
Kepada sahabat-sahabatku yang sedang berjuang dimana pun berada, salam perjuangan, merdeka, teriring do’a bagi para sahabat yang telah syahid dan lebih dahulu meninggalkan kita.