PEMERINTAH NEGARA ACHEH
ACHEH-SUMATRA NATIONAL LIBERATION FRONT
( ASNLF )
KOMANDO MILITER WILAYAH
PEUREULAK

 

Siaran Pers Panglima TNA Wilayah Peureulak, Tgk Ishak Daud 

 MEDIA AGAR PANTAU UPACARA DI ALUE MEUNUWA

 * FERY SANTORO SELAMAT DARI KONTAK SENJATA

         Sejak tanggal 10 Februari sampai sekarang, 29 Februari 2004, terus menerus terjadi kontak senjata antara Teuntara Neugara Acheh (TNA) dengan TNI (dari pasukan Raider Yonif 700 dan Yonif 900) di beberapa tempat di kawasan Simpang Ulim, Wilayah Peureulak (Acheh Timur). Selama itu, hanya satu anggota TNA yang syahid, dan dua orang mengalami luka-luka. TNA masih tetap bertahan dan menguasai kawasan itu. Pihak TNI hanya berhasil menyita satu pucuk senjata laras panjang, dan 20 unit bom rakitan.

         Sementara, Fery Santoro (kamerawan RCTI) yang masih berada bersama pasukan TNA, juga berhasil kami selamatkan. Ferry dan seluruh pasukan TNA dalam kondisi sehat wal-afiat.

        Namun, yang lebih mengkhawatirkan kami adalah keselamatan ribuan masyarakat sipil lainnya di kawasan Simpang Ulim yang saat ini dalam kondisi sangat ketakutan. Sepanjang 20 hari ini, banyak warga sipil yang menjadi korban kekerasan oleh TNI. Hak-hak warga sipil dikekang. Antara lain:

 - 2 orang warga sipil ditembak semena-mena
- Puluhan orang dianiaya, dan mengalami luka-luka
- 15 rumah penduduk dibakar
- Pembelian beras dibatasi hanya 2 Kg per hari
- Pergi ke mesjid/meunasah dibatasi
- Kegiatan ekonomi masyarakat tak berjalan

        Selain itu, hari Senin besok, tanggal 1 Maret 2004, pasukan Raider Yonif 700 dan 900 yang beroperasi di Simpang Ulim akan membuat acara peringatan Tahun Baru Hijriyah di Dayah Alue Meunuwa. Sejumlah ulama/teungku dayah setempat telah dikumpulkan, dipaksa menghadiri acara itu, bahkan diminta memobilisasi masyarakat untuk hadir pada acara tersebut.

        Yang mengkhawatirkan masyarakat adalah kemungkinan terjadinya ledakan bom di tempat upacara sebagaimana yang pernah terjadi di Peureulak, juga dalam keramaian, beberapa waktu lalu. Ketakutan masyarakat itu sangat beralasan, mengingat kebiasaan TNI merekayasa keganasan demikian, dengan menggunakan bom-bom rakitan untuk memudahkan mereka kemudian menyalahkan GAM.

         Karena itulah, demi keselamatan ribuan masyarakat sipil yang dipaksa menghadiri upacara peringatan Tahun Baru Hijriyah itu, kami mengimbau kalangan pers/wartawan agar dapat memantau dan meliput acara itu secara langsung. Kami yakin, dengan kehadiran wartawan, TNI akan lebih hati-hati bertindak brutal. 

         Kami ingatkan kepada para petinggi TNI agar tidak lagi mengulangi KEBIADABAN mereka dengan meledakkan bom di tempat keramaian, dan kemudian membuat propaganda murah menyalahkan GAM/TNA, sebab masyarakat Acheh dan dunia luar sudah cukup faham akan taktik biadab demikian itu. Sekarang ini pemerintah kolonial Indonesia di Jakarta bahkan sangat marah atas laporan State Department AS yang mengutuk kebrutalan militer/polisi RI di Acheh, jadi tidak perlulah mereka berpura-pura lagi, tiada siapapun yang akan percaya akan tipu daya mereka selain mereka sendiri.

 Peureulak, 29 Februari 2004

Ttd

TGK. ISHAK DAUD
(Panglima TNA Wilayah Peureulak)